Kelahiran dan Isyarat beliau
* KH. M. Hasyim Asy'ari dilahirkan pada hari Selasa Kliwon tanggal 14 Februari 1871 M. bertepatan dengan 24 Dzulqo’dah 1287 H di Pondok Gedang, sebuah pondok yang masyhur kala itu, di desa Tambak rejo- 2 KM. dari kota Jombang.
* Beliau berada dalam kandungan sang ibu selama 14 bulan.
Masyarakat jawa kala itu memiliki keyakinan bahwa masa kandungan yang panjang mengindikasikan kecemerlangan sang bayi dimasa mendatang.
* Suatu hari, ketika sedang menampi beras, Nyai Halimah, Sang ibu mendapati berasnya berubah wujud menjadi emas. Lantas beliau bergegas melaksanakan shalat Dhuha. Setelah shalat beliau berdoa: “Ya Allah, Saya tidak meminta harta, Saya hanya meminta kepadamu agar anak keturunanku menjadi orang-orang yang baik dan berguna bagi agama-Mu”.
* Saat kehamilannya sang ibu bermimpi melihat bulan purnama jatuh dari langit tepat mengenai perutnyayang sedang mengandung jabang bayi Hadhratus Syaikh.
Orang tua beliau
* Ayah Hadhratus Syaikh bernama Kiai Muhammad Asy’ari, seorang ulama tangguh berasal dari Gubug, Purwodadi, Jawa tengah. Beliau adalah keturunan kelima Abdurrahman alias Joko Tingkir.Menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren diantaranya Demak, Kudus, Jombang. Kemudian, di desa keras, beliau mendirikan masjid dan pondok pesantren sebagai pusat peribadatan dan pembelajaran bagi masyarakat sekitar. Dan disana pulalah beliau dimakamkan.
* Ibunya, Nyai Halimah , adalah putri pasangan Kiai Utsman dan Nyai Layinah. Kiai 'Utsman adalah pendiri pondok pesantren yang terletak di sebelah selatan pondok Gedang. Karena beliau ahli thoriqat, maka pondok beliau ini masyhur akan ilmu thoriqatnya. Ayah Nyai Layinah bernama Kiai Abdus Salam yang dikenal dengan gelar Kiai Sihah.
Pendidikan dan guru-guru beliau.
* ketika usianya mencapai 8 tahun, Hasyim kecil menerima didikan dari sang Ayah hingga usianya 13 tahun. Sebelumnya ia telah dididik oleh kakeknya di pesantren Gedang.
* Ketika usianya telah genap 15 tahun, dengan disertai doa dan restu orang tuanya, Hasyim mulai mengembara Thalabul ilmi di beberapa pondok pesantren di tanah Jawa. Diantara pesantren yang pernah beliau singgahi adalah ;
1. Pondok Pesantren Wonokoyo di Pasuruan,
2. Pondok Pesantren Langitan di Tuban,
3. Pondok Pesantren Trenggilis di Surabaya,
4. Pondok Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo, dan
5. Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Demangan-Bangkalan Madura.
* Pada tahun 1892 M. beliau pergi ke tanah haram untuk memperdalam ilmu disana. Diantara guru-guru beliau di Makkah ialah;
1. Syaikh Muhammad Mahfudz At-Tirmasi,
2. Syaikh Syuaib ibn Abdurrahman,
3. Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi,
4. Syaikh Ahmad Amin At-Ththar,
5. Syaikh Said Yamani,
6. Syaikh Bafaddlal,
7. Sayyid Abbas Al-Maliki,
8. Sayyid Sulthan Hasyim Ad-Daghistani,
9. Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Atthas,
10. Sayyid Alwi bin As-Segaf,
11. Sayyid Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi,
12. Sayyid Husain bin Muhammad Al-Habsyi, yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Hasyim muda juga sempat pula berguru pada;
13. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Aljawi,dan
14. Syaik Abdus Syakur, ulama Makkah asal Surabaya.
* Dari kesekian banyak guru-guru beliau yang paling berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan beliau adalah Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi, sehingga menjadikan beliau seorang ulama ahli hadits yang pertama di tanah Jawa.
SANAD-SANAD KEILMUAN.
* Sanad ilmu hadits beliau :
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi,
3. Syaikh Abi Bakr bin Muhammad Syatta Al-Makki,
4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan,
5. Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi,
6. Syaikh Muhammad bin ‘Ali Asy-Syanwani,
7. Syaikh ‘Isa bin Ahmad Al-Barawi,
8. Syaikh Ahmad Ad-Dafry,
9. Syaikh Salim bin Abdullah Al-Bishri,
10. Ayahnya Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishri,
11. Syaikh Muhammad bin A’lauddin Al-Babili
12. Syaikh Salim bin Ahmad As-Sanhuri,
13. Syaikh An-Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaithi,
14. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
15. Syaikh Al-Hafidh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Atsqalany,
16. Syaikh Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi,
17. Syaikh Abi Al-Abbas Ahmad bin Abi Thalib Al-Hijar,
18. Syaikh Al-Husain bin Al-Mubarak Az-Zabidi Al-Hanbaly,
19. Syaikh Abi Al-Waqt Abdul Awwal bin ‘Isa As-Sajasy
20. Syaikh Abdr Rahman bin Mudzaffr Ad-Dawudy,
21. Syaikh Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasy,
22. Syaikh Abi Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Al-Faribary,
23. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin ‘Ismail Al-Bukhary bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardzabah (Imam Al-Bukhary)
* Sanad ilmu Fiqh beliau:
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi,
3. Syaikh Abi Bakr bin Muhammad Syatta Al-Makki,
4. Sayyid Ahmad bin zaini Dahlan,
5. Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi,
6. Syaikh Muhammad bin ‘Ali Asy-Syanwani,
7. Syaikh ‘Isa bin Ahmad Al-Barawi,
8. Syaikh Ahmad Ad-Dafry,
9. Syaikh Salim bin Abdullah Al-Bishri,
10. Ayahnya Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishri,
11. Syaikh mMansur Ath-Thukhi,
12. Syaikh Sulthan bin Ahmad Al-Muzahi,
13. Syaikh Nuruddin ‘Ali Az-Ziyadi,
14. Al-Imam Ibn Hajr Al-Haitami,
15. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
Dari jalur lain;
10. Syaikh Abdullah bin Salim Al Bishry,
11. Syaikh ‘Ali Asy-Syibromullasi,
12. Syaikh ‘Ali Az-Ziyadi,
13. Syaikh ‘Ali Al-Halaby,
14. Al-Imam Muhammad bin Ahmad Ar-Romli,
15. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
Dari jalur lain;
10. Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishry,
11. Syaikh Manshur Ath-Tukhi,
12. Syaikh Sulthon bin Ahmad Al-Muzahi
13. Syaikh Salim Asy-Syibsyiri
14. Syaikh Muhammad bin Ahmad alkhothib Asy-Syirbini
15. Syaikh Al-islam Zakaria bin Muhammad Al-anshary,
16. Syaikh Jalaludin Muhammad bin Ahmad Almahally
17. Syaikh Abi Zur’ah Ahmad bin Abd Rohim Al-Iraqy
18. Syaikh Abd Rohim bin Husain Al-Iraqy
19. Syaikh ‘Alauddin Al-‘Aththor
20. Al-imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-nawawy
21. Syaikh Kamaluddin Sallar Al-Ardabily
22. Syaikh Muhammad bin Muhammad Shohib Asy-Syamil
23. Syaikh Abd Ghofar Abd Rohman Al-Quzwiny
24. Al-imam Al-Qosim Abd Karim Ar-Rofi’i
25. Syaikh Ibn Fadhl bin Yahya,
26. Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghozaly
27. Syaikh Imam Al-Haramain,
28. Syaikh Abd Malik Al-Juwainy,
29. Syaikh Abdullah Al-Juwainy,
30. Syaikh Al-Qoffal As-Shoghir,
31. Syakh Abi Zaid Al-Mirwazy,
32. Syaikh Abi Ishaq Al-Mirwazy,
33. Syaikh Ahmad bin Suraij Al-Baghdady,
34. Syaikh ‘Utsman Al-Anmathi,
35. Syaikh Ismail Al-Muzany,
36. Al-Imam Al-A’dhom Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i,
37. Al-Imam Malik,
38. Al-Imam Nafi’
39. Ibn Umar bin Al-Khattab,
40. Shohibus Syari’ah Rasulillah Shallahu ‘Alaihi Wasalam
* Disamping itu ada silsilah yang menarik yang kesemuanya dari ulama Nusantara :
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikhina Kholil Bangkalan,
3. Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi,
4. Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari,
5. Syaikh Abd Shomad Al-Falimbany,
6. Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin Al-Falimbany,
7. Syaikh Muhammad Thoyyib bin Ja’far Al-Falimbany,
8. Syaikh Al-Musnid Ja’far bin Muhammad Badruddin Al-Falimbany,
9. Syaikh Al-Musnid Muhammad bin ‘Alauddin Albabily,
10. Syaikh Al-Musnid Ahmad bin Salim As-Sanhuri,
11. Al-Imam Ibn Hajar Al-Haitamy,
12. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-anshary.
BERTEMU DENGAN KH. AHMAD DAHLAN
*Diantara guru beliau ada seorang ulama kontroversial yaitu Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, seorang ulama Nusantara yang telah mendapat izin mengajar sekaligus menjadi imam dan khatib di Masjidil haram.
Beliau mendukung gerakan pembaharuan Islam yang saat itu sedang digalakkan oleh Muhammad Abduh di Mesir dalam hal menepis Islam dari pengaruh ajaran-ajaran thareqat. Sementara para ulama Nusantara lainnya yang berada di Makkah seperti Al-Imam Nawawi, Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi, Syaikh Abd Karim dsb semuanya mendukung gerakan thareqat seperti guru-guru Kiai Hasyim yang lain. Meski demikian Ahmad Khatib menolak konsep Muhammad Abduh yang mengajak umat Islam untuk tidak bertaqlid alias berijtihad sendiri-sendiri (langsung mengambil dari Al Qur’an.red).
* Dimajlisnya banyak santri-santri Indonesia yang belajar pada Syaikh Ahmad Khatib, terutama dari Sumatera,bahkan tidak sedikit yang kemudian tertarik dengan ide Muhammad Abduh dan kemudian mereka berpindah ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Dari mereka inilah awal munculnya gerakan modernisasi Islam di Indonesia. Dan di sinilah Kiai Hasyim bertemu dengan Ahmad Dahlan,seorang pendiri Muhammadiyah yang mengamini sepenuhnya pemikiran Ahmad Khatib. Sementara Kiai Hasyim dengan bekal ilmu dari tanah air yang cukup dan intensifitas beliau dengan Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi sama sekali tidak terpengaruh kecuali dengan semangatnya membangkitkan ummat Islam Nusantara dari keterpurukan.
JASA DAN PERJUANGAN.
Mendirikan Pesantren.
Sepulangnya di tanah air Kiai Hasyim Mendirikan Pondok Pesantren dengan membeli sebidang tanah milik seorang dalang ternama di desa Tebuireng, tepatnya pada tanggal 26 Rabi’ul awal 1317 H. (sekitar tahun 1899 M.). Di situlah beliau tinggal bersama santri-santri yang berawal hanya 8 orang. Kemudian dalam tempo 3 bulan jumlah santri bertambah hingga 28 orang.
*Pada mulanya beliau mendapat tantangan keras dari lingkungan yang memang dikenal sebagai kampung hitam, karena mayoritas penduduknya adalah pemabuk, penjudi, pencuri dan para perampok.
Berbagai gangguan dan rintangan telah mengancam beliau dan para santri hingga akhirnya beliau meminta bantuan para kiai di Cirebon yang terkenal akan keampuhannya itu. Mereka adalah; Kiai Sholeh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syansuri Wanantara, Kiai Abdul Jamil Buntet dan Kiai Abbas Kempek.
* Dari riadloh para Kiai inilah lambat laun musuh yang terdiri dari para preman dan geng desa Tebuireng akhirnya tunduk dan takluk di hadapan Kiai Hasyim. Bahkan diantara mereka ada yang minta diajari ilmu beladiri dan ilmu hikmah, bahkan tak sedikit pula yang akhirnya ikut menjadi santri dengan belajar, mengaji dan beribadah di pesantren tersebut.
* Keberadaan pesantren Tebuireng semakin diakui oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Tebuireng dan Jombang semata namun banyak pula orang-orang dari daerah lain yang ikut mondok menuntut ilmu pada Kiai Hasyim. Tercatat pada tahun 1915-an, Jumlah santri pesantren Tebuireng telah mencapai 2.000 orang yang berasal dari berbagai penjuru tanah air. Bahkan pondok pesantren Tebuireng mendapat pengakuan resmi oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 6 Februari 1907 M.
Mendirikan Jam’iyyah NU.
Cepat atau lambat gerakan pembaharuan Islam oleh Wahhabi di Arab Saudi sampai juga di Nusantara yang dibawa oleh sebagian alumni-alumni dari Timur Tengah. Sebagai langkah antisipasi, pada tanggal 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. di kampung Kertopaten Jombang Jawa timur, beliau mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama bersama KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan ulama-ulama besar lainnya, dengan azas dan tujuan yangnya “Memegang teguh pada salah satu mazhab yang empat dan mengerjakan apa apa yang membawa kemaslahatan bagi agama Islam”.
* KH.Hasyim Asy’ari terpilih menjadi Ro’is Akbar NU, sebuah jabatan ditubuh NU yang hingga kini tidak ada seorangpun yang menyandangnya. Beliau jualah yang menyusun Qonun Asasi (peraturan Dasar) yang menjadi acuan dasar garis perjuangan NU dalam menjaga dan melestarikan faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. NU sebagai wadah yang menghimpun ulama Nusantara dengan sistem organisasi, tentu bukan hal mudah untuk menyatukan ulama yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya.
* Beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan membuka peluang yang lebih besar bagi lawan untuk menghancurkannya, baik itu penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar syi’ar Islam di Nusantara, dengan cara mengadu domba antar sesame. Oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama ulama lainnya.
Mendirikan Majalah.
* Untuk membudayakan tulis menulis dikalangan warga NU, bersama KH.Abdul Wahab Chasbullah, beliau mendirikan “Soeara Nahdlatoel Oelama” majalah yang edisi perdananya terbit pada tanggal 1 Shafar 1346 H./ 1930 M. (empat tahun setelah NU didirikan). Selain berisikan informasi penting tentang laju perkembangan NU, didalamnya juga menyuguhkan berita-berita aktual seputar nasional. Majalah ini memiliki cirri khas yang tak dijumpai di surat kabar lainnya, yakni bertuliskan jawa pegon (bahasa jawa yang ditulis dengan huruf hija’iyah) -hal ini memungkinkan kaum kolonial / Belanda tidak bisa menyerap sepenuhnya informasi dari majalah ini-,red. Atas prakarsa dari beliau inilah kini telah beredar banyak majalah NU di Nusantara yang menjadikan generasi muda NU gemar untuk tulis menulis.
* Beliau juga sering mengisi kolom pada majalah dan surat kabar pada waktu itu, seperti Pandji Masjarakat, Soeara Masjoemi, dan Soeara Nahdlatoel Oelama sendiri. Tulisan beliau biasanya berbentuk artikel, fatwa, ceramah dan jawaban atas pertanyaan para pembaca (beliau sebagai pengasuh rubric Tanya jawab masalah fiqhiyah).
* Disamping itu beliau juga berperan besar pada pendirian kelompok-kelompok diskusi seperti Nahdlatoel Wathon (kebangkitan tanah air), didirikan pada tahun 1916, dan Taswirul Afkar pada tahun 1918. (Dikenal juga dengan nama Nahdlatul Fikri atau kebangkitan pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (pergerakan kaum saudagar). Serikat ini dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Sedangkan Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat kala itu, hingga memiliki cabang di beberapa kota.
* Waktu yang digunakan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menulis biasanya adalah pagi hari antara jam 10.00 sampai menjelang Dhuhur. Selain untuk menulis, waktu ini biasanya beliau gunakan untuk istirahat, membaca kitab dan atau menerima tamu yang rata-rata sekitar 50 orang setiap harinya.
Karya-karya beliau.
* Diantara karya-karya beliau adalah;
1. Al-tibyan fi an-nahy’an muqatthah al-arham wa al-aqarib wa al-ikhwan. Berisi penjelasan tentang larangan memutus silaturrahim sanak family, kerabat dan saudara.
2. Mukaddimah al-qanun al-asasy li jam’iyyah nahdlat al ‘ulama, Berisi pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdlatul Ulama.
3. Risalah fi ta’kid al akhdz bi mazhab al aimmah al arba’ah, Risalah yang menerangkan memperkuat berpegang teguh pada madzhab empat.
4. Mawaidz, Berisi beberapa nasihat penting.
5. Arba’in haditsan tata’alliq bi mabadi’ jam’iyyah nahdlat al ‘ulama , Berisi 40 hadits Nabi yang terkait dengan dasar-dasar jam’iyah Nahdlatul Ulama.
* Kelima kitab beliau yang disebut diatas dihimpun menjadi satu kitab yang diberi nama At-Tibyan, berjumlah 41 Halaman.
6. An nur al mubin fi mahabbah sayyid al mursalin, kitab yang menerangkan cinta kepada pimpinan para rasul, Rasulullah SAW.
7. At tanbihat al wajibat liman yashna al maulid bi al munkarat. Berisi peringatan bagi yang mengadakan perayaan maulid dengan dicampuri perbuatan yang dilarang syari’at.
8. Risalah ahlu al sunnah wa al jama’ah fi al hadits al mauta wa syar as sa’ah wa bayan mafhum al sunnah wa al bid’ah, Risalah yang menerangkan hadits-hadits yang menjelaskan tentang kematian serta tanda-tanda hari kiamat dari sudut pandang Ahlussunnah wal Jama’ah.
9. Ziyadah ta’liqat a’la mandzumah as syaikh ‘abdullah bin yasin al fasuruany, Berisikan tambahan terhadap nadzom syaikh ‘abdullah bin yasin al fasuruany.
10. Dzu’ul misbah fi bayan ahkam an nikah, Cahayanya sebuah pelita yang benderang tentang hokum-hukum pernikahan.
11. Ad durasul muntasyirah fi masa’il tis’a ‘asyarah, Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah.
12. Hasyiyah ‘ala fath ar rahman bi syarah risalah al wali ruslan li syaikh al islam zakariya al anshari, Komentar atas kitab Fathur Rahman penjelas kitab Risalah Al Wali Ruslan karya Syaikh Al Islam Zakariya Al Anshari.
13. Ar risalah al tauhidiyah, Berisi Risalah tentang ketauhidan.
14. Al qala’id fi bayani ma yajibu min al aqa’id, Juga menerangkan tentang Tauhid.
15. Ar risalah fi al tashawuf , Menerangkan tentang ilmu Tashawuf.
16. Adab al ‘alim wa al muta’allim fi ma yahtaju ilaihi al muta’allim fi ahwal ta’limih wa ma yatawaqqaf ‘alaihial mu’allim fi maqat ta’limih, Kitab penting berisi kode etik para Kiai dan santri.
Kitab ini dianggap paling fenomenal, Menjadi salah satu bidang studi di berbagai lembaga pendidikan. Juga sering dijadikan para mahasiswa dalam membuat tesis maupun skripsi.
Gelar Hadhratus Syaikh.
* Bila Kiai Kholil Bangkalan terkenal dengan sebutan “Syaikhona Waliyullah”, Maka KH. M. Hasyim Asy’ari mendapat gelar “Hadhratus Syaikh”. Gelar Maha Guru ini muthlaq diberikan kepada Kiai Hasyim sebab hampir seluruh ulama di tanah Jawa pernah berguru kepada beliau.Tercatat seperti KH. Abdul Karim, Pendiri ponpes Lirboyo Kediri, KH. Wahab Chasbullah, ponpes Tambak beras, KH. Romli, ponpes Darul ‘ulum, Dll.
* Meski demikian, Hal ini tidak membuat beliau sombong, beliau tidak pernah menyebutkan gelar itu sama sekali. Padahal beliau sangatlah patut menyandang gelar tersebut.terbukti pada manuskrip asli karya-karya beliau, Disana tidak tercantum embel-embel tersebut menyertai nama beliau, seperti kiai, haji, syaikh, ‘alim, apalagi ‘allamah. Akan tetapi beliau lebih memilih embel-embel yang sifatnya merendahkan diri kepada Allah SWT, beliau selalu menyertakan kata-kata Al-Faqir, Al-Haqir, sebelum namanya disebut.
Inilah salah satu sifat tawadlu’ yang beliau miliki.
Kepergian Beliau.
* Bagaimana pun hebatnya seorang manusia hidup didunia, pasti tak luput dari maut yang menjemput. Tak terkecuali Hadhratus Syaikh sebagai manusia biasa, beliau dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa pada malam Ramadhan, tepatnya tanggal 7 Ramadhan 1366 H.bertepatan dengan 21 Juli 1947 M.
* Kepergian Hadhratus Syaikh untuk salama-lamanya bukan hanya membawa kesedihan bagi umat Islam Indonesia, Luar negeri pun turut berduka. Mereka merasa sangat kehilangan seorang tokoh yang mereka banggakan.
Semoga apa yang beliau tempuh selama hidupnya dibalas oleh Allah dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga dengan kepergian Kiai Hasyim, akan muncul Hasyim Asy’ari- Hasyim Asy’ari yang lain, baik dari dzuriyah, kerabat, santri maupun kaum muslimin. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin.
(Khulasah manaqib ini disampaikan pada kegiatan diklat Ahlus Sunnah wal jama’ah di Ponpes Al-Mubarok, Medono, Pekalongan. bulan Ramadhan 1433 H).
*Penulis adalah pengasuh Ponpes Al-Mubarok, Medono, Pekalongan.
Redaksi memohon kepada pembaca yang budiman untuk mendoakan penulis agar diberi umur yang panjang dalam sehat dan afiyat serta istiqomah didalam berjuang untuk agama Allah.(redaktur)

Maulana Al Habib Luthfi dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M.
Beliau dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi.
Sementara nasab beliau dari jalur ayah:
Rasulullah Muhammad SAW
Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
Imam Husein ash-Sibth
Imam Ali Zainal Abiddin
Imam Muhammad al-Baqir
Imam Ja’far Shadiq
Imam Ali al-Uraidhi
Imam Muhammad an-Naqib
Imam Isa an-Naqib ar-Rumi
Imam Ahmad Al-Muhajir
Imam Ubaidullah
Imam Alwy Ba’Alawy
Imam Muhammad
Imam Alwy
Imam Ali Khali Qasam
Imam Muhammad Shahib Marbath
Imam Ali
Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy
Imam Alwy al-Ghuyyur
Imam Ali Maula Darrak
Imam Muhammad Maulad Dawileh
Imam Alwy an-Nasiq
Al-Habib Ali
Al-Habib Alwy
Al-Habib Hasan
Al-Imam Yahya Ba’Alawy
Al-Habib Ahmad
Al-Habib Syekh
Al-Habib Muhammad
Al-Habib Thoha
Al-Habib Muhammad al-Qodhi
Al-Habib Thoha
Al-Habib Hasan
Al-Habib Thoha
Al-Habib Umar
Al-Habib Hasyim
Al-Habib Ali
Al-Habib Muhammad Luthfi
Masa Pendidikan
Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya:
Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas
Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)
Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi
Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.
Perjalanan Ilmiah
Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menjiarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.
Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.
Silsilah Thariqah dan Baiat:
Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah:
Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah
Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid
Sanad Naqsyabandiayah al Khalidiyah:
Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni.
Syadziliyah :
Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.
Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah:
Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.
Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.
Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.
Dari guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am.
Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah:
Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.
Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin.
Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya:
Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah.
Dari beliau, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadis dan sanadnya.
Thariqah Tijaniah:
Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.
Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘am.
Kegiatan-kegiatan Maulana Habib:
Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami'ul Usul thariq al Aulia).
Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.
Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu)
Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu.
Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).
Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.
Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya.sebagai tambahan,untuk wilayah petarukan ada dua tempat yang menjadi rangkaian maulid kanzus, yakni di Ponpes Uswatun Hasanah (Kalirandu) dan Majlis ta'lim As Sholeh Sikentung Petarukan.
Jabatan Organisasi:
>Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlut Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah.
>Ketua Umum MUI Jawa Tengah dll.(www.habiblutfiyahya.net)

Sebuah berita interlokal dari Drs. M. Zamroni di Semarang, mengabarkan bahwa KH Bisyri Musthofa wafat di Rumah Sakit Umum Daerah Semarang. Serangan jantung dan tekanan darah tinggi ditambah gangguan pada paru-paru yang menyebabkan proses kematiannya begitu cepat, hanya tiga hari saja. Musibah itu terjadi dua minngu setelah meninggalnya KH Muhammad Dahlan, mantan Menteri Agama. Keduanya adalah ulama besar, keduanya tenaga-tenaga penting dalam perjuangan. Kepergiannya adalah suatu kehilangan amat besar. Yang patah memang bisa tumbuh, yang hilang dapat terganti. Tetapi, penggati itu bukan lagi Bisyri Musthofa…..!
Seminggu sebelumnya, di Jakarta, Bisri menyelesaikan kebarangkatan puteranya ke Arab Saudi, melanjutkan sekolah ke Riyadh. Menyelesaikan pula beberapa urusan dengan Majelis Syuro Partai Persatuan. Pulang dari Jakarta terus ke Jombang untuk suatu urusan dengan Rois ‘Aam KH Bisyri Syansuri. Sebenarnya telah terasa juga bahwa kesehatannya mulai terganggu, namun dipaksakan juga untuk mengajar para santri dalam pondok pesantren yang dipimpinnya di Rembang.
Selain itu, Bisri masih juga dipaksakan untuk menghadiri harlah partai, karena tak sampai hati menolak undangan mereka. Selesai menghadiri harlah partai, Bisri benar-benar tak sanggup lagi untuk menghadiri beberapa undangan yang memang padat direncanakannya sebelumnya.
KH Bisyri Musthofa memerintahkan puteranya untuk memanggil dokter, suatu hal yang dirasakan agak luar biasa karena beliau memang tidak biasa datang kepada dokter. Tekanan darahnya amat tinggi, keletihannya yang menumpuk menyebabkan timbulnya komplikasinya demikian berat hingga jantung dan paru-parunya tidak normal lagi. Kesanggupan tim dokter telah sampai di batas kemampuan mereka sebagai manusia sekalipun mereka bekerja keras. Allah SWT Maha Berkehendak lagi Maha Kuasa. Hari Rabu 16 Pebruari menjelang waktu ‘Ashar, KH Bisyri Musthofa 64 tahun, dipanggil keharibaanNya dalam husnul khatimah. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raji’un!
Disembahyangi lebih dari duapuluh gelombang
Pak Idham Chalid Presiden Partai Persatuan dan Ketua Umum PBNU menugaskan saya untuk mewakili DPP dan PBNU menghadiri pemakaman KH Bisyri Musthofa di Rembang esok harinya. Rembang kota di mana Ibu RA Kartini disemayamkan 73 tahun yang lampau, diliputi suasana mendung, kelabu hujan air mata. Puluhan ribu rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur membanjiri bekas ibu kota keresidenan itu dengan wajah-wajah murung menahan duka dan kesabaran. Tanggul kesabaran itu tiba-tiba jebol begitu pekikan ratap tangis para santri menyambut kedatangan mobil jenazah guru dan pemimpin mereka yang amat tercinta.
Musholla di tengah pesantren itu tidak mungkin bisa menanpung begitu banyak Umat Islam yang hendak menyembahyangkan almaghfurlah satu gelombang, dua gelombang, tiga gelombang dan seterusnya hingga lebih dari duapuluh gelombang jama’ah menyembahyangkan jenazah KH Bisyri Musthafa. Sejauh 1 km dari rumah kediaman menuju makam, jenazah itu dibiarkan diusung ribuan tangan tanpa bandosa tertutup, Ummat seolah-olah hendak meyakinkan kepada dirinya bahwa jasad yang membujur dalam kain kafan itu adalah benar-benar KH Bisyri Musthofa, seorang mubaligh yang jika diatas podium, kata-kata mutiaranya itu mengikat ratusan ribu hadirin hadirat menjadi satu, bukan lagi ratusan ribu manusia, tetapi Cuma satu. Satu dalam asas, satu dalam akidah, dan satu dalam tujuan.
Berpuluh-puluh ulama terkemuka, diantaranya KH Arwani dari Kudus, KH Ali Ma’sum dari Yogyakarta, KH Alwi dari Magelang, KH Muntaha dari Wonosobo, KH Sulaiman dari Purworejo, KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, KH Muslih dari Mranggen Semarang, dan masih banyak lagi yang memimpin doa, Surat Yasin dan Tahlil yang diikuti oleh berpuluh-puluh ribu umat sepanjang jalan hingga ke makam (kuburan).
Gubernur Jawa Tengah Suparjo Rustam melepas jenazah dari Semarang, adapun Muspida setempat mewakili pemerintah daerah dalam upacara pemakaman. Tak satupun ulama yang sanggup menyelesaikan pidato sambutannya karena rasa haru yang mencekam menahan musibah dalam kesabaran.
Profil seorang mubaligh
Seorang orator, ahli pidato yang mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi begitu gamblang, mudah diterima oleh baik orang-orang kota maupun desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, yang membosankan menjadi mengasyikkan, yang kelihatanya sepele menjadi amat penting, begitulah jika diuraikan olah KH Bisyri Musthafa. Kritik-kritiknya mengenai hal-hal fundamental, yang orang lain jarang yang sanggup mengungkapkannya. Akan tetapi oleh KH Bisyri Musthofa dengan amat mudah diutarakan dalam senda gurau yang menyegarkan. Pihak yang terkena tidak marah, karena disadarkan secara sopan dan menyenangkan. Tidak terasa penat mengikuti pidato-pidatonya sekalipun sudah berlangusung tiga jam.
Hadirin yang terdiri dari berbagai golongan, penguasa, pemimpin masyarakat, ulama, orang hartawan, pemuda, terpelajar, wanita, orang awam, masing-masing memperoleh bagian yang mereka harap-harapkan dari pidato-pidato KH Bisyri Musthafa. Tone (bunyi suaranya) dalam pidato sangat enak untuk didengar, berkumandang mengalun naik dan turun mengikuti arti kalimat-kalimat yang diutarakan dengan jelas. Bahasanya selalu dipilih secara baik tetapi amat mudah dimengerti, sopan dan selalu menghindari kalimat-kalimat yang tajam apalagi kotor. Baliau seorang sastrawan, tetapi tidak tele-tele, sasarannya terarah, dihiasi oleh irama baik sya’ir maupun ayat-ayat Al-Qur’an dengan lagu yang indah mempesonakan. Ilmu pengetahuannya memang banyak dan mendalam, pemandangannya luas dan pendiriannya sangat teguh.
Memang KH Bisyri Musthofa seorang orator, profil seorang mubaligh yang sempurna. Perawakannya yang besar, tinggi, dan gagah memang modal utama karunia Allah untuk menimbulkan kesan meyakinkan tetapi menyenangkan!
Musibah menjelang kampanye pemilu
Kepergiannya amat dirasakan sangat berat justru masa kampanye pemilu tinggal satu minggu. Sudah menjadi kebiasaan KH Bisyri Musthafa, bahwa untuk bisa memenuhi keinginan sebanyak mungkin masyarakat yang mengundang beliau untuk ceramah, pengajian, harlah, dan sebagainya, hari-hari selama 4 atau 5 bulan di muka itu sudah penuh dengan acara-acara undangan siang maupun malam.
Seorang yang boleh dibilang bisa bicara mengenai segala hal, bermacam-macam situasi dan kondisi. Berbicara tentang ilmiyah, tentang kemasyarakatan, tentang keruwetan dan penderitaan, tentang suasana gembira, tentang politik, tentang kepartaian, dan terutama tentang kampenye pemilu. Hal itu dialami semenjak pemilu tahun 1955 dan tahun 1971. Pidato-pidatonya begitu saja meluncur dari perbendaharaan otak dan hatinya, tanpa konsep dan tanpa teks. Hadirin senatiasa merasa bahwa pidato-pidatonya senantiasa mengetengahkan masalah-masalah yang baru, hampir tidak pernah mengulang pidato-pidatonya yang pernah diberikan. Pidato-pidatonya dalam bahasa Indonesia maupun Arab sama baiknya dengan pidato-pidatonya dalam bahasa Jawa.
Akhir-akhir ini sedang membiasakan pidato dalam bahasa sunda dan Madura, karena semakin banyaknya undangan-undangan dari daerah itu. Tadinya orang mengira, bahwa KH Bisyri Musthofa hanya sanggup berbicara di forum desa dan paling-paling kota kabupaten. Akan tetapi dua kali pidato di Mauludan di tempat kediaman KH Dr Idham Chalid yang dikunjungi selosin menteri, jenderal dan diplomat, ternyata sukses dan hadirin “ketagihan” minta lain kali KH Bisyri Musthofa didatangkan lagi!
Sudah direncanakan, bahwa masa kampanye pemilu yang akan dimulai tanggal 24 Februari yang akan datang KH Bisyri Musthofa akan memenuhi undangan-undangan. Selain di Jawa termasuk ibukota, juga daerah-daerah di luar Jawa. Akan tetapi Allah SWT mentaqdirkan lain. Wafatnya menjelang kampanye pemilu 1977 dirasakan sebagai suatu musibah.
Namun, Imam dan Taqwa ini ridha akan segala qadha dan qadar Ilahi. Antara harap dan cemas (roja’ wal khauf) yakin benar bahwa tiap musibah mengandung hikmah, dan Allah SWT yang maha Tahu. Allahumma haawalaina wa laa’alainaa!!!
Jama’ah di daerah-daerah telah banyak memiliki rekaman pidato-pidato dan ceramah-ceramah KH Bisyri Musthofa. Sebagai seorang ulama dan pengarang (muallif), beliau meninggalkan begitu banyak kitab-kitab karangan serta terjemahan mengenai berbagai bidang, seperti Tafsir Al-Qur’an “Al Ibriz” 30 Juz, terjemahan “Alfiyah Ibnu Malik” dan lain-lain termasuk pedoman studi yang banyak sekali penggemarnya, baik di pesantren maupun kursus-kursus pemuda.
Semoga wafat KH Bisyri Musthofa membangkitkan para mubaligh dan angkatan muda untuk segara tampil, agar kepergiannya tidak menimbulkan kekosongan dalam Amar Ma’ruf nahi Munkar dan Dakwah pada umumnya.
Kita memohon kepada allah SWT semoga musibah ini bukanlah suatu bencana. Apapun yang terjadi adalah Ke Maha Kuasaan Allah yang Maha Lembut Kasih sayangNya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu…………………!
(oleh: KH Saifuddin Zuhri dalam Secercah Dakwah)
(Sumber)
Syekh Mahfudz At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier intelektualnya di Tanah Suci. Di Makkah pula, pengarang produktif ini tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?
Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Dialah ulama Jawi paling berpengaruh pada zamannya. Lahir tahun 1258/1868 di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Mahfudz menghabiskan sebagian besar hidupnya di Makkah, tempat para kiai Jawa yang paling berpengaruh pada awal abad ke-20 menjadi murid-muridnya. Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang di pelajari di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis dan ushul fiqh.
Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Mahfudz ikut mengangkat nama harum pondok yang didirikan kakeknya dari pihak ayah itu. Abdul Mannan Dipomenggolo, sang kakek, mendirikan Pesantren Tremas pada 1830. Sampai sekarang pesantren tua yang sering dihubung-hungkan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini ini masih eksis, dan bias diakses lewat dunia maya. Sebelum mendirikan pesantrennya, Abdul Mannan belajar di Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Kasan Besari (Hasan Basri), yang salah satu muridnya adalah pujangga Ronggowarsito. Setelah itu dia berangkat ke Timur Tengah dan belajar pada Sayyid Muhammad al-Shatta’ di Makkah dan pada Ibrahim Al-Bajuri, syeikh Al-Azhar. Setelah Abdul Mannan wafat pada 1862, putranya Abdullah menggantikan kepemimpinannya di Pesantren Tremas.
Muhammad Mahfudz adalah putra tertua Abdullah. Dia memperoleh pelajaran dasar agamanya dari sang ayah. Beranjak remaja, dia dikirim belajar ke Makkah. Dia belajar pada seorang ulama penganut mazhab Syafi’i yaitu Sayyid Bakri atau Abu Bakr b. Muhammad al-Shatta’ ad-Dimyati, putra guru kakeknya di Makkah. Sepanjang hayatnya, Mahfudz memang dekat dengan keluarga Shatta’. Keluarga terpelajar ini dari Dimyat, Mesir. Mahfudz bahkan diangkat menjadi anak, dan dikubur di tengah-tengah keluarga Shatta’. Mahfudz juga belajar pada kolega dan sekaligus rival Sayyid Bakri, yaitu Muhammad Sa`id Ba-Basil, yang menggantikan Ahmad bin Zayni Dahlan sebagai mufti Makkah dari mazhab Syafi’i. Dia juga belajar pada sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Makkah, seperti Syekh Nawawi Banten (Nawawi b. `Umar al-Jawi al-Bantani), `Abd al-Ghani al-Bimawi dan Muhammad Zainuddin al-Sumbawi, semuanya mengajar di Masjidil Haram.
Mahfudz tidak kembali ke Nusantara, memilih berkarier di Makkah, tempat dia menjadi guru yang ulung. Sewaktu Abdullah wafat pada tahun 1894, adiknya , Dimyati, yang menjadi kiai di Tremas. Anak-anak Abdullah lainnya adalah Kiai Haji Dahlan yang juga pernah belajar di Makkah. Sekembali dari Tanah Suci dia diambil menantu oleh Kiai Shaleh Darat Semarang; Kiai Haji . Muhammad Bakri yang ahli qira’ah, dan Kiai Haji Abdur Razaq, ahli thariqah dan mursyid yang punya murid di mana-mana.
Kiai Dimyati memang punya andil besar dalam memajukan pesantren Tremas. Tapi, berkat reputasi Mahfudz-lah Tremas menjadi dikenal lebih luas, meskipun, itu tadi, beliau tidak pernah mengajar di sana. Di antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air.
Dia juga mengajar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, `Abdul Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat near Surabaya. Memang banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebu Ireng, dan kiai pertama yang menjarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai Bihsri, menantunya, pendiri pesantren Tambakberas, yang juga pernah menjadi rais ‘aam PB NU. Kedua kiai besar ini, kita ketahui, adalah engkongnya Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita itu.
Penulis Produktif
Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang. Salah satu bukunya yang dicetak ulang dan digunakan di pesantren sampai sekarang adalah “Manhaj dhawi al-Nazar”, salah satu karya tingkat lanjut mengenai tata bahsa Arab. Tapi yang paling terkenal adalah “Mauhibah Dzi al fadl” . Kitab fiqh empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah Ba Fadhl ”Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah”. Kitab ini boleh dibilang jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa.
Dua kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya Zakariyya Anshari ”Lubb Al-Ushul” dan syarahnya ”Ghayat al-wushul”, dan ”Is’af al Muthali”, syarah atas berbagai versi karya Subki ”Jam’ al-Jawami’. Sebuah kitab lainnya mengenai fiqh yaitu ”Takmilat al-Minhaj al-Qawim”, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami “Al-Minhaj al-Qawim”.
At-Tarmasi juga menaruh minat pada seni baca Al-Qur’an (qira’ah). Untuk itu pula, dia menulis kitab “Al Fawaid at Tarmisiyah fi Asanid al- Qiraat al Asy’ariyah”, Al- Budur al Munir fi qiraah al-Imam Ibnu Katsir”, ”Tanwir ash Shadr fi Qiraah al Imam Abi ’Amr”, ”Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah”, ”Tamim al Manafi fi Qiraat al-Imam Nafi’, dan ”Aniyah ath Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi Qiraat al Asy’ariyah.”
Selain itu, ada dua karya lainnya tentang bibliografi dan riwayat pengarangnya. Yakni “Kifayat al-mustafid li-ma `alla min al-asanid, mengenai jalur transmisi (sanad) dari para pengarang kitab-kitab klasik sampai guru-gurunya, dan “As-Saqayah al-Mardhiyyah fi Asma’i Kutub Ashhabina al- Syafiiyah”, kajian atas karya-karya fiqih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.
Diceritakan dalam kitab “Kifayatul Mustafid “ bahwa Syekh Mahfudz selain masyhur sebagai seorang alim yang khusyu’ dalam ibadah, tawadlu’ dalam tingkah laku, ridha dan sabar didalam sikap, juga sebagai seorang ahli dalam Hadist Bukhari. Beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah dalam pengajaran Shahih Bukhari. Ijasah ini berasal langsung dari Imam Bukhari itu sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai karya Shahih Bukhari, dan Syeikh Mahfudz a merupakan mata rantai yang terakhir pada waktu itu.
Dalam menulis, konon Syekh Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Khabarnya, kitab ”Manhaj Dhawi al-Nazhar” beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.
Mengingat karyanya yang berbagai-bagai itu, tidak berlebihan kiranya jika Syeikh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, a- musnid, al- faqih, al- ushuli dan al- muqri.
Yang menarik, kitab-kitab karangan Syeikh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.
Muhammad Mahfudz At-Tarmasi wafat pada hari Rabu bulan Rajab tahun 1338 Hijrah bertepatan dengan tahun 1920 M.
Blow-up:
1. Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.
2. Di antara murid-murid Syekh Mahfud Tremas yang berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air. Dia juga mengjar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, dan Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah
Sumber artikel

Dalam dekade lima puluhan yang lalu,halaqah hadis SYAIKH MUHAMMAD YASIN AL PADANGI dibanjiri ramai penuntut dari dalam dan luar Mekkah,untuk mendengar kuliah hadis yang disampaikan oleh Syeikh Yasin serta memperoleh sanad hadis yang istimewa.Penuntut-penuntut dari Malaysia juga tidak ketinggalan untuk turut bersaing dalam halaqah ini.
Tokoh yang sedang diperkatakan disini ialah Syaikh Yasin seorang ulama ensiklopedia.Beliau pakar dalang bidang hadis .fiqh,usul fiqh dan ilmu falak. Kepakaran beliau dalam bidang hadis dapat dilihat pada gelaran para ulama pada beliau iaitu “Musnid Dunya”Nama penuh beliau Abu al-Faid Muhammad Yasin Bin Isa al-Fadani ,dilahirkan pada tahun 1335 H/1916 M di daerah Padang Indonesia dan wafat di Makkah pada 28 Dzulhijjah 1410 H/21 Julai 1990 M pada hari Khamis malam Jumaat.
Riwayat Syeikh al-fadani yang coba Saya paprkan ini, bukan ulama tempatan yang biasa diperkenalkan melalui akhbar dan majalah, bukan seorang Tuan guru yang pernah membuka pondok lalu namanya terukir bersama nama kampung, pondok dan jama’ahnya. Tetapi beliau seorang Ulama yang sebanding dengan nama seperti Imam Abu al-Taib Syamsyuddin al-‘Azim Abadi dan Syeikh Muhammad Khalil as-Saharanpuri. Syeikh al-Fadani bertemu dengan dua nama ini dalam satu kurun mereka merupakan pengarang kitab Syarah Sunan Abu Daud, salah satu koleksi hadis yang mahsyur.
Tokoh ini seorang ulama yang terkenal luas pengetahuannya dalam bidang
hadis ,terutama dalam pengkhususan sanad dan musalsalat. bahkan beliau diberi julukan Musnid al-‘Asr.
Tidak terkejut jika Syeikh al-Fadani dikejar dan diburu oleh pencipta sanad hadis untuk mendapatkan silsilahnya yang lebih tinggi.Kepentingan sanad dalam perawian hadis digambarkan oleh Imam Abdullah Ibn Mubarak rahimullah ta’ala sebagai keperluan untuk mempertahankan agama Islam itu sendiri..Sehubungan ini, beliau berkata :
لولا الاسناد لقال من شاء ما شاء الاسناد من الدين
“Sanad sebahgian dari agama ,tanpa sanad orang bebas bercakap apa yang disukainya”
Sejarah mencatatkan para ulama hadis pernah merantau berbulan lamanya demi mendapatkan satu hadis menelusuri sanad yang tinggi dan dipercayai ada di negeri –negeri tertentu,mereka sedia mengeluarkan biaya yang besar,hanya untuk mendapatkan satu hadis.
Syeikh Yasin murid yang sangat rajin dan tekun dalam menuntut ilmu dan belajar pada ulama , maka tidak heran kalau beliau mempunyai banyak guru, diantara guru-gurunya adalah:
1. Syeikh Muhammad Ali bin Husain bin Ibrahim al-Maliky al-Makky
2. Syeikh Abi Ali Hasan bin Muhammad Massath al-Makky
3. Syeikh Umar bin Hasan Al-Mahrasi al-Maliky
4. SyeikhUmar Bajunaid (Mufti as-Syafi’iyah)
5. Syeikh Said bin Muhammad al-Yamani
6. Syeikh Hasan Yamani
7. Syeikh Muhsin bin Ali al-Musawi al-Falembani al-Makky
8. Syeikh Abdullah Muhammad Ghozi al-Makky
9. Syeikh Ibrahim bin Dawud al-Fathoni al-Makky
10. Sayyid Alawy bin Abbas al-Maliky al-Makky
11. Sayyid Muhammad Amin Kutbi al-Makky
12. Syeikh Ahmad al-Mukhollalati al-Sami al-Makky
13. Syeikh Kholifah al-Hanadi al-Nabhani al-Bahraini al-Makky
14. Syeikh Ubaidillah bin al-Islam al-Sindi al-Duyubandi
15. Syeikh Husain Ahmad al-Faidz Abbadi
16. Syeikh Abdul Qodir bin Taufiq al-Halabi
17. Syeikh Muhammad Abdul baqi al-Laknawy al-Ansori
18. Syeikh Abdul hadi al-Midrasi
Mereka adalah sebagian dari guru-guru Syeikh Yasin dalam belajar kitab dan Ijazah Sanad Perawi hadis, dan masih banyak lagi guru-guru beliau, bahkan dalam ilmu Riwayat Sanad hadist beliau banyak menemui ulama-ulama dari berbagai Negara sampai 700 guru baik lelaki maupun perempuan hanya demi mendapatkan Riwayat Sanad hadist.
KARYA ILMIAH DAN KARANGANNYA
*Dalam ilmu Hadis
1. Al-Durul al-Mandhut Sarah Sunan Abi Dawud 3 Jilid
2. Fatfu al-Allam Sarah Bulughu al-Maram 4 juz
*Ilmu Ushul Fiqh dan Qowaidul Fiqh
1. Bughyatu al-Mustaq sarah Luma’ Syeh Aby Ishaq 2 Juz
2. Hasiyah ala al-Ashbah wal al-Nadhoir fil furu’ al- Fiqhiyyah lil-Suyuty
3. Tatmimu al-Duhul Takliqot ala Madkholi al-Wusul ila al- Ilmi al-Ushul
4 . Al-Durru al-Nadhid hawasyi ala kitab al-Tamhid lil-Asnawi Al-Fawaid al-Janiyyah hasiyah ala al-Mawahibu al-Saniyyah ala qowaid al-Fiqhiyyah
6. Ta’liqot ala al-luma’ al-Syeh Abi Ishaq
7. Idhoatu al-Nur al-Lami’ syarah al-Kaukabu al-Syathi’ (nadhom) Jam’u al-Jawami’
8. Hasiyah ala al-Talattufi sarah al-Ta’arruf fi al-Ushul Fiqhi
9. Nailu al-Ma’mul hasyiah ala Lubbi al-Ushul wa sarkhihi Ghoyatu al-Wushul
*Dalam berbagai ilmu
1. Janiu al-Tsamar syarah Mandhumah Manazil al-Qomar
2. Al-Muhtadhor al-Muhadzab fi Ihtihroji al-Auqat wa al- qobilah bi al-Rub’i al-Mujib
3. Al-Mawahibu al-Jazilah sarah Tsamratu al-Wasilah fi al- Falaki
4. Tastnifu al-Sam’i Muhtashor fi ilmi al-Wadh’i
5. Bulghotu al-Mustaq fi ilimi al-Istiqaq
6. Manhalu al-Ifadah hawasi ala Risalati al-Bahsi Lathosyi Kubri Zadah
7. Husnu al-Shiyaghoh syarah kitab Durusi al-Balaghoh
8. Risalah fi al-Mantiqi
9. Ithafu al-Kholan Taudhihu Tuhfatu al-Ikhwan fi Ilmi al- Bayan li al-Dardiri
10. Al-Risalah al-Bayaniyyah ala Thoriqati al-Sual wa al-Jawab
*Dalam Ilmu Riwayat Sanad
1. Madmahu al-Wujdan fi Asanidi al-Syeh Umar Hamdan 3 Juz
2. Ithafu al-Ihwan bi Ikhtishori Madmahi al-Wujdan 2 Juz
3. Tanwiru al-Bashirah bi Turuqi al-Isnad al-Syahirah
4. Faidzu al-Rahman fi Tarjamati wa Asanidi al-Syeh Kholifah bin Hamdi al-Nabhan
5. Al-Qaulu al-Jamil bi Ijazati al-Sayyid Ibrahim Aqil
6. Faidzu al-Muhaimin fi Tarjamati wa Asanidi al-Sayyid Muhsin
7. al-Maslak al-Jaly fi Tarjamati wa Asanidi al-Syeh Muhammad Aly
Al-Waslu al-Sati fi Tarjamatiwa Asanidi al-Sihab Ahmad al-Mukhollalati
9. Asanidu Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki
10. Al-Irsyadat fi Asanidi Kutub al-Nahwiyyah wa al-Shorfiyyah
11. Al-Ujalah fi al-Ahaditsi al-Musalsalah
12. Asma al-Ghoyah fi Asanidi al-Syeh Ibrahim al-Khozami fi al-Qiroah
13. Asanidu al-Kutub al-Hadisiyyah al-Sab’ah
14. Al-Iqdu al-Farid min Jawahiri al-Asanid
15. Ithafu al-Bararah bi Ahadisi al-Kutub al-Hadisiyyah al- Asyrah
16. Al-Riyadz al-Nadzrah fi Ahadisi al-Kutub al-Hadisiyyah al- Asyirah
17. Ithafu al-Mustafid bi Nuri al-Asanid
18. Qurratu al-Ain fi Asanidi A’lamu al-Haramain
19. Ithafu uli al-Himam al-Aliyyah bi al-Kalam ala al-Hadist al- Musalsal bi al-Awwaliyyah
20. Waraqat fi Majmuati al-Musalsalat wa al-Awa’il wa Asanid al-Aliyyah
21. Al-Durru al-Farid min Durari al-Asanid
22. Bughyatu al-Murid min Ulumi al-Asanid 4 Jilid
23. Al-Muqtathaf min Ithafi al-Akabir bi Marwiati Abdul Qadir al-Shodiqi al-Makky
24. Ihtishor Riyadhi Ahli Jannah min Atsari Ahli Sunnah li Abdi al-Baqi al-Ba’li al-Hambali
25. Faidzu al-Ilah al-Aly fi Asanidi Abdul Baqi al-Ba’li al- Hambali
26. Arbauna Haditsan mi Arba’ina Kitaban an Arbaina Syaikhan
27. Al-Arba’una al-Buldaniyyah Arba’una Haditsan an Arba’ina Syaihan an Arba’ina Baladan
28. Arbauna Hadistan Musalsal bi al-Nuhad ila al-Jalal al- Suyuti
29. Al-Salasilu al-Muhtarah bi ijazati al-Mu’arrih al-Sayyid Muhammad bin Muhammad Ziarah
30. Tidzkaru al-Masafi bi Ijazati al-Fahri Abdullah bin Abdul Karim al-Jarafi
31. Al-Nafhatu al-Makkiyah fi Al-Asanidi al-Makkiyah Ijazah li al-Nabighoh al-Khodhi Muhammad bin Abdullah al- Umari
32. Fathu al-Rabbi al-Majid fima li Asyakhi min Fara’idi al- Ijazah wa al-Asanid
33. Silsilatu al-Wuslah Majmu’ah Muhtarah min al-Ahadisti al- Musalsal
34. Al-Kawakibu al-Darari bi ijazati mahmud Said mamduh al-hohiri
35. Faidhul Mabdi bi ijazati al-Syeh Muhammad Iwad Mankhos al-Zubaidi
36. Al-Faidhu al-Rahmani bi Ijazati Samahati al-Allamah al Kabir Muhammad Taqi al-Ustmani
TULISAN ATAU TA’LIQ BELIAU DALAM TSABAT
1. Nihayatu al-Mathlab ala al-Abbi fi Ulumi al-Isnad wa al-Adab
2. Risalatani ala Tsabati al-Amir (al-Durru al-Nadhir wa al-Raudhu al-Nadhir fi Majmu’i al-Ijazat bi Tsabati al-Amir)
3. Risalati ala al-Awa’il al-Sunbuliyyah (al-Ujalah al-Makkiyyah wa al-Nafhatu al-Makiyyah )
4. Waraqat ala al-Jawahir al-Tsamin fi Arba’I an Hadistan min Ahadisti Sayyidi al-Mursalin, li al-Ajluni
5. Ithafu Albahi al-Sary ala Tsabati Abdul Rahman al-Kazbary
6. Ta’liqat ala Kifayati al-Mustafid li al-Syeh al-Turmusy
7. Tahqiqu al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyati al-Syarqawi
Perintis Madrasah Banat
Karena keprihatin beliau pada masyarakat Islam maka pada bulan Rabiulawal tahun 1362 H Syeikh Yasin merintiskan dan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah banat atau putri di Syamiyyak Makkah al-Mukaramah. Perjalan Madrasah banat ini dari tahun ke tahun berkembang pesat, hal ini terbukti semakin banyaknya pelajar dan alumni, karena Madrasah banat ini adalah yang pertama di kota Makkah bahkan di kerajaan Saudi Arabia, sehingga pada tahun 1347 H didirikan Maha’ad Muallimat.
Syeikh Yasin wafat pada hari Kamis malam Jum’at tanggal 28 Dzulhijjah 1410 H disholatkan di masjid al-Haram dan dimakamkan di pemakaman Ma’la Makkah al-Mukarramah.
(Sumber Artikel)
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI


