English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Dakwah Kultural NU

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Sabtu, 31 Maret 2012 0 komentar

BID’AH, Tiba-tiba kata itu populer lagi, setelah untuk beberapa tahun terkubur oleh realitas yang sungguh menyejukkan. Kemesraan yang terjalin antar umat Islam di tanah air tanpa membedakan faham keber-agama-annya. Namun sayang, kemesraan itu kini terancam berantakan seiring dengan massifnya gerakan-gerakan salafy/wahabi yang menamakan diri “pemurnian” ajaran Islam dalam beberapa tahun belakangan ini. Dengan segala daya upaya tanpa mengenal waktu dan tempat mereka melakukan “intimidasi” dengan menuduh orang lain yang berseberangan faham telah melakukan bid’ah, melakukan sesuatu yang menurut mereka syirik dan sesat, bahkan ada yang sampai melakukan takfir (mengkafirkan) sesame mukmin. Dalam beberapa kasus mereka malah mengambil alih managemen masjid serta mengganti atau menghapus kegiatan masjid dengan hal-hal yang menurut mereka benar dan murni. Tak pelak, ini menimbulkan gejolak ditengah masyarakat yang nantinya sangat berpeluang memunculkan konflik.
NU adalah golongan yang selama ini sering dituduh sebagai pelopor praktik bid’ah, khurafat dan syirik, ini tidak lepas dari tradisi tahlil, istighotsah, diba’an dan ziarah kubur ke makam para wali yang memang banyak dilakukan oleh warga NU. Alhasil, bagi mereka, NU merupakan bid’ah maker (pencipta bid’ah). Karena bagi mereka bid,ah itu sesat, tidak perlu ada peninjauan apalagi pembagian makna bid’ah. Kullu bid’atin dlolalah, titik! Tidak perlu pembagian bid’ah hasanah atau dlolalah, apalagi pembagian bid’ah yang merujuk kepada hukum fikih yang lima.

Dakwah kultural NU dan bid’ah hasanah
Berbeda dengan dakwah Islam di Asia Barat, Afrika dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, masuknya Islam ke Indonesia adalah dengan cara damai, yakni dengan pendekatan dengan masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya salafussalih dan budaya lokal Nusantara). Berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M. telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatra (Barus). Kemudian Marcopolo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H. / 1292 M., telah banyak orang Arab menyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathutah, pengembara muslim yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H. / 1345 M. menuliskan dalam Kanzul ‘ulum bahwa di Aceh telah tersebar pengikut mazhab Syafi’i . Tapi baru abad 9 H (XV M) penduduk pribumi memeluk Islam secara missal. Inilah masa dakwah walisongo yang dating ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I Turki dengan menjadikan budaya dan tradisi lokal sebagai sarana atau media dakwah. Style inilah yang disebut dengan dakwah kultural yang dikembangkan oleh walisongo, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa literatur seperti “Ensiklopedi Islam”, “Tarikhul Auliya”, “ Sejarah kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia” , “Seputar Walisongo” dan “Ulama pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya”.

Sebelum Islam masuk, mayoritas penduduk Nusantara beragama Hindu dan Budha, sehingga tradisi lokalnya amat kental diwarnai oleh dua agama tersebut. Oleh walisongo, tradisi lokal ini tidak dianggap sebagai musuh agama yang harus dibasmi selagi tidak ada larangan dalam nas syari’at. Justru sebaliknya, tradisi tersebut dimanfaatkan sebagai media dakwah. Kecintaan masyarakat jawa pada kesenian dimanfaatkan oleh walisongo untuk menciptakan tembang-tembang berisi ajaran Islam dalam bahasa jawa. Pertunjukan wayang diisi lakon Islami, kebiasaanberkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu diisi pembacaan kalimah Thayyibah, kebiasaan menyediakan makanan bagi anggota keluarga yang meninggal diubah menjadi bersedekah kepada tetangga yang berkumpul untuk berdoa. Bahkan Sunan Ampel – yang dikenal sangat hati-hati– menyebut kata Shalat dengan sembahyang dan menamai Langgar untuk menyebut Tempat shalat. Bangunan masjid dan langgar pun dibuat dengan corak jawa dengan genteng yang bertingkat-tingkat, bahkan masjid kudus dilengkapi dengan menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon da’i, walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang menurut sebagian sejarawan mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha dalam mendidik cantrik dan calon pemimpin agama mereka.

Model dakwah kultural sebagaimana dipraktekkan oleh walisongo itulah yang oleh Nahdltul Ulama terus dipelihara dan dikembangkan di Indonesia dengan prinsip Al muhafadhah ‘ala al qadimis shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah. NU sangat terbuka dengan hal-hal baru yang membawa kemaslahatan bagi agama Islam walaupun Nabi tidak pernah mencontohkannya. Diantaranya sangat mendukung model dakwah dengan media televisi, telepon genggam, internet atau apapun yang sesuai dengan dengan perkembangan zaman dan tingkat kecerdasan ( Khaatibu an naasa bi qadri ‘uquulihim ) serta kecenderungan obyek dakwah ( umat ) selama tidak bertentangan dengan syar’i. Sungguh amat menggelikan melihat kelompok yang gemar menuduh bid’ah dengan alasan praktik tersebut tidak ada pada masa Nabi tapi ternyata mereka berdakwah melalui media majalah, radio dan internet!. Bukankah semua itu tidak ada pada zaman Nabi dan berarti Nabi pun tidak pernah melakukannya? Tidakkah berarti mereka juga bid’ah maker ?

Disadur dari tulisan H. RPA. Mujahid Anshori
Ketua Forum Silaturrahmi Ta’mir Masjid dan Musholla Indonesia
Majalah AULA No. 06 Tahun XXXIII edisi Juni 2011.


K.H. Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU) : Lambang NU Diperoleh Lewat Mimpi

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 28 Maret 2012 0 komentar


Pelukis berbakat alam ini, bersama Wahab Chasbullah dan Mas Abdul Aziz, adalah trio yang berjasa kepada NU. Kenapa demikian? Malam itu Ridwan Abdullah (63 tahun) tertidur nyenyak di pembaringannya. Sebelum tidur, ia telah melaksanakan shalat istikharah, minta petunjuk Allah. Kakek sekian cucu itu terdesak waktu. Hasil karyanya ditunggu untuk dikibarkan di forum muktamar kedua Nahdlatul Ulama (NU) di salah satu hotel di Surabaya dua hari lagi. Padahal, ia telah menyanggupi sejak dua bulan sebelumnya, ketua panitia muktamar, K.H. Wahab Chasbullah, juga telah mengingatkan dirinya. Entah kenapa ilham untuk menciptakan lambang jam’iyyah ulama yang baru didirikan oleh Hadhratusy Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari tahun lalu itu sulit didapat. Masalahnya, dia juga tidak mau sembarangan. Itu karena jam’iyyah ulama tersebut merupakan organisasi yang menghimpun ahli agama, sehingga lambangnya juga harus mencitrakan keberadaan, kepaduan, kesungguhan, dan cita-cita yang ingin dicapai. Keinginan yang begitu luhur itu terus didesak waktu.

Lambang NU Diperoleh Lewat Mimpi
Ketika malam telah larut dan Ridwan Abdullah terbuai tidur dalam nyenyak di keheningan malam, dia mimpi melihat gambar di langit biru. Ketika terbangun, jam dinding menunjuk angka dua. Segera diambilnya kertas dan pinsil dan ditorehkannya gambar mimpi itu dalam bentuk sketsa. Akhirnya, coretan itu pun selesai. Pada pagi harinya, sketsa itu disempurnakan lengkap dengan tulisan NU, huruf Arab dan Latin.

Hanya dalam waktu satu hari, lambang itu selesai, sempurna wujudnya seperti yang kita kenal sampai hari ini. Maklum, kiai Ridwan memang dikenal sebagai ulama yang punya keahlian melukis. Itulah sebabnya K.H. Wahab Chasbullah menugasinya membuat lambang jam’iyyah tersebut.
Namun, untuk merepresentasikannya di atas kain, dia kesulitan mencari bahan yang pas. Saking percaya kepada mimpinya, Ridwan juga berusaha mencari warna yang tepat dengan yang dilihatnya di mimpi. Namun, tidak mudah menemukan warna seperti itu. Beberapa toko kain di Surabaya yang didatangi tidak punya persediaan kain seperti itu. Akhirnya, di Malang kain itu ditemukan. Itu pun Cuma selembar, berukuran 4 meter x 6 meter. ‘Tak apalah,” pikirnya. Maka, di atas kain warna hijau ukuran 4 x 6 itulah, lambang NU pertama kali ditorehkan oleh pelukisnya, K.H. Ridwan Abdullah. Besoknya, 9 Oktober 1927, lambang itu dipancang di pintu gerbang Hotel Paneleh, Surabaya, tempat berlangsungnya muktamar NU kedua. Hal itu memang disengaja untuk memancing perhatian warga Surabaya, baik terhadap lambangnya maupun kegiatan muktamar itu sendiri. Maklum, segalanya masih baru bagi masyarakat. Umpan itu mengena. Pejabat yang mewakili pemerintah Hindia Belanda datang dari Jakarta. Saat mengikuti upacara pembukaan, dia dibuat terpana dan penasaran demi melihat lambang tersebut. Dia lantas bertanya kepada Bupati Surabaya yang berdiri di sampingnya. Karena sang Bupati tidak bisa menjawab, pertanyaan itu diteruskan kepada shahibul bait, H. Hasan Gipo. Ternyata yang punya gawe pun sama saja: tak tahu menahu! Dia hanya bisa mengatakan bahwa lambang itu dibuat oleh H. Ridwan Abdullah.

Selanjutnya, seperti yang dituliskan dalam buku Karisma Ulama, bahwa untuk menjawab teka-teki makna lambang NU itu dibentuk majelis khusus. Beberapa wakil dari pemerintah dan para kiai dilibatkan dalam forum tersebut, termasuk Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Di depan forum tersebut, K.H. Ridwan Abdullah memberikan presentasi untuk pertama kali. Dalam penjelasannya (menurut keterangan sebagian guru saya : K.H. Ridwan Abdullah menjelaskannya dengan bicara tanpa sadar/ istilah lainnya apa ... irtijal ?),
Kiai Ridwan menguraikan bahwa tali ini melambangkan agama sesuai dengan firman Allah “Berpeganglah kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai.” (Q.s. Ali Imran: 103). Posisi tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah (persatuan) kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali berjumlah 99 melambangkan asmaul husna. Bintang sembilan melambangkan Wali Sanga. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad Saw. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba’ah (madzhab yang empat). Walhasil, seluruh peserta majelis sepakat, menerima lambang itu dan membuat rekomendasi agar muktamar kedua memutuskan lambang yang diciptakan oleh Kiai Ridwan tersebut menjadi lambang NU.

Kiai Raden Muhammad Adnan, utusan dari Solo, kemudian merumuskan uraian Kiai Ridwan tadi pada acara penutupan muktamar dengan mengatakan: “Lambang bola dunia berarti lambang persatuan kaum muslimin seluruh dunia, diikat oleh agama Allah, meneruskan perjuangan Wali Sanga yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang dibingkai dalam kerangka madzhab empat.
Kelak, 27 tahun kemudian, pada 1954, Kiai Ridwan mengulangi presentasinya itu, namun dalam bentuk utuh. Hal itu terjadi pada muktamar ke-20 NU di Surabaya. Lambang dunia, yang dibikin bulat seperti bola hingga dapat diputar, diletakkan di medan muktamar, yaitu di depan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Bakat Alam Kiai Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah Belanda. Agaknya di situlah, dia mendapatkan pengetahuan teknik dasar menggambar dan melukis. Dia tergolong murid yang pintar, sehingga ada orang Belanda yang ingin mengadopsinya. Belum selesai sekolah di situ, orangtuanyan kemudian mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon. Ayah Kiai Ridwan, Abdullah, memang berasal dari Cirebon, Ridwan adalah anak bungsu.
Dari Buntet, Ridwan masih mengembara mencari ilmu ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, dan Pesantren Bangkalan, Madura, asuhan Kiai Cholil. Di Pesantren terakhir itulah, Ridwan menimba ilmu cukup lama dibanding yang di tempat lain. Sebagai kiai, Ridwan lebih banyak bergerak di dalam kota. Dalam beberapa hal, dia tidak sependapat dengan kiai yang tinggal di pedesaan. Misalnya, sementara kiai di pedesaan mengaharamkan kepiting, ia justru menghalalkan. Ia dapat dikategorikan sebagai kiai inteletual. Pergaulannya dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto cukup erat. Apalagi, tempat tinggal mereka tidak berjauhan dengan rumahnya, di Bubutan Gang IV/20. karena tidak punya pesantren, ia sering megadakan dakwah keliling, terutama pada malam hari, yaitu di kampung Kawatan, Tembok, dan Sawahan. Sebelum NU berdiri, Kiai Ridwan mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan – lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1916 – dan terlibat dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918), dua lembaga yang menjadi embrio lahirnya organisasi NU. Ketika NU sudah diresmikan, ia aktif di Cabang Surabaya dan mewakilinya dalam muktamar ke-13 NU di Menes, Pandeglang, pada tanggal 15 Juni 1938.

Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Ridwan menikah dua kali. Pernikahan pertama terjadi pada tahun 1910 dengan Makiyyah. Setelah dikaruniai tiga anak, sang istri meninggal dunia. Yang kedua dengan Siti Aisyah, gadis Bangil, yang dicomblangi oleh sahabatnya, Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Ridwan wafat 1962, pada umur 78 tahun, dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Kiai Wahab Chasbullah (pendiri NU), K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (pencipta nama NU), dan K.H. Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) dikenal sebagai “tiga serangkai NU.”











MENGENAL BADAN BADAN OTONOM DIBAWAH NU

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Minggu, 20 November 2011 0 komentar


1. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah
Program pokok:

Pengkajian ketarekatan dan keagamaan
Pengembangan ajaran tarekat mu'tabarah di lingkungan NU
Pembinaan praktek tarekat bagi warga NU
Jaringan organisasi:

15 Wilayah
200 Cabang


2. Muslimat NU
Program pokok:

Pengkaderan dan pengembangan keorganisasian
Pengkajian keperempuanan dan kemasyarakatan
Pengembangan SDM kaum perempuan
Pengembangan pendidikan kejuruan
Pengembangan usaha social dan advokasi perempuan
Jaringan organisasi:

31 Wilayah
339 Cabang
2.650 Anak Cabang (setingkat MWC)
Jaringan usaha:

49 Rumah Sakit, Poliklinik dan Rumah Bersalin
8.522 TK dan TPQ
247 Koperasi (koperasi An Nisa)
Puluhan panti yatim piatu, panti balita, asrama putri, dan Balai Latihan Kerja yang tersebar di pelbagai daerah


3. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
Program pokok:

Pengkaderan dan pengembangan keorganisasian
Pengembangan wawasan kebangsaan
Pengembangan SDM di bidang ekonomi, politik, IPTEK, social budaya, dan hukum
Pengembangan jaringan kerja nasional dan internasional
Jaringan organisasi:

30 Wilayah
337 Cabang
Jaringan usaha:

INKOWINA (Induk Koperasi Wira Usaha Nasional)


4. Fatayat NU
Program pokok:

Pengkaderan dan pengembangan keorganisasian
Kajian kepemudaan dan keperempuanan
Pendidikan dan penyuluhan kesehatan masyarakat
Penanggulangan krisis social, terutama menyangkut perbaikan kualitas generasi muda
Jaringan organisasi:

27 Wilayah
334 Cabang


5. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
Program pokok:


Pengkaderan dan pengembangan keorganisasian
Pengkajian social kemasyarakatan
Pengembangan kreatifitas pelajar
Penggalangan dana beasiswa bagi pelajar kurang mampu
Pendidikan dan pembinaan remaja penyandang masalah social
Jaringan organisasi:

27 Wilayah
265 Cabang
Jaringan Usaha:

KOPUTRA (Koperasi Putra Nusantara)


6. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
Program pokok:

Pengkaderan dan pengembangan keorganisasian
Pengkajian social keagamaan serta masalah remaja dan kepelajaran
Pendidikan dan pelayanan kesehatan remaja
Pengembangan pendidikan bagi pelajar putus sekolah
Jaringan organisasi:

26 Wilayah
316 Cabang


7. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
Pemetaan dan pengembangan potensi kader terdidik NU
Optimalisasi peran dan mobilitas social warga NU
Pengkajian masalah-masalah keindonesiaan
Pengembangan jaringan kerja nasional dan internasional
Jaringan organisasi:

5 Wilayah
17 Cabang


8. Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (IPS Pagar Nusa)
Program pokok:

Pendidikan bela diri pencak silat.
Pembinaan dan pengembangan tenaga keamanan di lingkungan NU.
Pengembangan kerja social kemanusiaan
Jaringan organisasi:

15 Wilayah
110 Cabang


9. Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH)
Program pokok:

Pengkajian dan pengembangan seni baca Al-Qur'an.
Pendidikan dan pembinaan qira'atul Qur'an.
Pengembangan SDM di bidang tahfidzul Qur'an.
Penyelenggaraan MTQ.
Jaringan organisasi:

27 Wilayah
339 Cabang


*Selain 10 Badan Otonom, 5 Lajnah, dan 10 Lembaga, khusus di tingkat Pusat NU juga memiliki Centre for Strategic Policy Studies (CSPS) yang bertugas mengkaji masalah-masalah yang terkait dengan kebijakan strategis pemerintah.


Kirab Resolusi Jihad yang akan diselenggarakan keluarga besar Nahdlatul ulama, 20–25 Nopember 2011 dari Start PCNU Surabaya sampai Tugu Proklamasi Jakarta ternyata mengundang perhatian warga Nahdliyyin di berbagai daerah.

Di Kudus Jawa Tengah, kalangan Nahdliyyin menganggap kirab ini bertujuan untuk memberikan pesan kuat kepada generasi sekarang tentang arti Jihad. Kirab ini diharapkan dapat mentransformasikan jihad di era globalisasi.

"Kirab memberikan inspirasi untuk selalu membangun negeri. Selain itu, untuk menghadirkan kesejahteraan, menebarkan rasa aman, damai serta melanggengkan persatuan dan kesatuan di bumi Nusantara," tutur Sekretaris panitia Korda Kudus M. Syakuri kepada NU Online, Sabtu (19/11).

Lebih lanjut, Syakuri menjelaskan, Kirab ini sangat penting untuk menggemakan kembali semangat kepahlawanan di lingkungan generasi Nahdliyyin.

“Kirab ini hendak meneguhkan kembali komitmen kebangsaan ummat islam di Indonesia agar terus memegang teguh resolusi jihad NU, “ tandas Ketua PC IPNU Kudus ini.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Sebagaimana diketahui, Resolusi jihad merupakan bentuk seruan perlawanan para pemimpin, ulama, kyai-kyai NU terhadap penjajah yang dicetuskan dalam rapat http://www.blogger.com/img/blank.gifAkbar Nahdlatul Ulama di Kantor Bubutan Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945 lalu.

Memanfaatkan momentum hari pahlawan tahun ini, keluarga besar Nahdlatul Ulama mengadakan kirab memperingati resolusi jihad dengan mengarak sang saka merah putih dan panji-panji NU oleh pasukan pejalan kaki, ratusan sepeda motor dan puluhan mobil di sepanjang jalan mulai Surabaya hingga Jakarta yang ditempuh selama 6 hari perjalanan.


(sumber)
(image)

Ingin bangga jadi orang NU

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Selasa, 23 Maret 2010 0 komentar


"Afdolnya, ketua umum PB NU bukan dari kalangan politisi." Itu kata Mas Karso Wachidi, orang Cilacap, Jawa Tengah. Menurut warga NU yang amat setia itu, hanya orang yang punya semangat mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang bisa mengubah gerakan NU yang sekarang melempem ini. Masih kata Mas Karso, selama ini arah gerakan NU lebih berorientasi elitis, mengerucut ke atas, melayani kepentingan para elite. Padahal, seharusnya gerakan NU berorientasi populis, melebar ke bawahuntuk menyejahterakan umat. Kalau tidak terjadi perubahan orientasi itu, NU akan tetap seperti sekarang; mati tidak, hidup juga tidak. Dengan begitu, kondisi warganya akan tetap serba tertinggal. "Menjadi orang NU saat ini tidak ada bangga-bangganya, malah sebaliknya, malu! Sebab, lembaga maupun warga NU sudah tercitra sebagai entitas yang ketinggalan zaman, terpecah-belah, dan lebih dimainkan untuk mendukung kepentingan kekuasaan para tokoh dan pemimpinnya. Saya ingin tidak malu lagi jadi orang NU. Tolong sampaikan perasaan saya ini kepada mereka yang di atas; percayakan kepemimpinan NU kepada orang yang benar-benar ingin berkhidmah kepada umat. Orang seperti ini bisa melihat alamat Allah pada wajah umat yang bodoh, dibodohi, miskin dan dimiskinkan. Dan itu jelas bukan dari kalangan politisi." *** Mas Karso adalah warga NU biasa. Kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan. Pekerjaannya pun tidak tetap. Kelebihan Mas Karso hanya pada kesetiaannya terhadap NU yang luar biasa, tahan banting. Namun, penilaian dan harapannya tadi tidak mungkin diabaikan. Mas Karso telah mengemukakan dan menggugat sesuatu yang sangat mendasar. Karena amat mendasar, bila gugatan itu tidak dipenuhi, NU akan kehilangan masa depan. Dan bisa dipastikan gugatan Mas Karso sesungguhnya mewakili suara hati banyak warga NU di tingkat akar rumput yang ingin bangga dan tidak lagi malu menjadi warga nahdliyin . Menurut alur pikir Mas Karso, kebanggaan menjadi warga NU mungkin terwujud hanya bila organisasi massa ini meninggalkan orientasi elitis dan berbalik 180 derajat menjadi berorientasi populis atau keumatan. Dengan orientasi itu, agenda-agenda untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan nyata umat harus menjadi prioritas utama. Masalah-masalah sosial yang membelit umat seperti pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi dan SDM akan menjadi agenda nomor satu. Pada sisi lain, kegiatan-kegiatan ritual-simbolik yang ternyata juga menyerap banyak sumber daya umat bisa dikurangi sampai ke titik yang lebih proporsional. Tentulah banyak warga nahdliyin yang setuju dengan pikiran Mas Karso, termasuk saya. Tapi, realitasnya hingga saat ini NU tetap berorientasi elitis dengan segala akibat negatifnya yang terlihat jelas. Pemenuhan kebutuhan umat akan sekolah yang baik, rumah sakit, koperasi, pendampingan di bidang pertanian masih sangat minim. Semua itu gara-gara NU tetap berorientasi ke atas. Hal tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Gus Dur kepada saya pada sekitar 1996. Saat itu Gus Dur bilang kepada saya, "Bila NU tidak bisa memberikan manfaat nyata kepada umat dan hanya digunakan untuk membela kepentingan para elitenya, saya akan mengambil jarak dari kepengurusan." *** Kenyataan yang terbukti membuat NU makin payah ini pernah saya diskusikan dengan Mas Karso. "Mas, membalik orientasi NU ke arah kemaslahatan umat memang bagus. Tapi, apa hal itu mungkin dan tidak akan menjadi retorika belaka?" tanya saya. "Kenapa tidak mungkin?" "Mari kita renungkan. Dari namanya saja, NU sudah cenderung elitis. Bukankah NU berarti kebangkitan para ulama dan ulama adalah kelompok elite di kalangan umat? Dengan demikian, NU juga milik para ulama. Maka, NU mau diberi orientasi ke mana pun adalah hak si pemilik. Umat hanya menempati posisi objek yang harus taat saja. Iya kan ?" Mata Mas Karso terbelalak. Dia mengusap-usap dahi dan wajahnya tampak gagap. "Sampean benar dan itulah kenyataannya. Tapi, nanti dulu. Dalam hal keagamaan, umat memang wajib taat kepada pemimpin, dalam hal ini para ulama. Itu kewajiban umat yang sudah jadi harga mati. Tapi, NU adalah sebuah organisasi massa. Jadi, kepentingan dan kesejahteraan umat itulah, yang utama. Dan itu menjadi kewajiban harga mati para pemimpin. "Jelasnya begini," sambung Mas Karso. "Saya meyakini NU adalah kendaraan umum buatan para ulama- mukhlisin (ulama yang ikhlas, Red), disopiri para ulama- mukhlisin untuk mengangkut umat..." "Ke mana?" potong saya. "Ya, mestinya bukan ke arah yang lain -kepentingan para pemilik untuk meraih kekuasaan misalnya- tapi ke arah kemaslahatan umat. Yang dituju oleh NU mestinya masyarakat nahdliyin yang maju pendidikannya karena dulu para ulama sudah membangun lembaga tasfirul afkar ; yang maju ekonominya karena semangat nahdlatut tujar , serta yang maju jiwa kebangsaannya karena semangat nahdlatul wathan . Bila NU dibawa atau dipakai untuk mencapai kekuasaan, siapa yang membawanya? Ulama atau bukan ulama?" Saya diam dan senyum. "Kendaraan NU buatan para ulama-mukhlisin harus diarahkan menuju kemaslahatan umat," tegas Mas Karso. "Dan itu hanya mungkin dicapai bila NU dipimpin oleh orang yang bisa menangis ketika melihat keterbelakangan umat dan pemimpin seperti itu pasti bukan dari kalangan politisi?" tanya saya mengulang. Saya melihat Mas Karso mendesah panjang. "Sebenarnya tidak demikian benar. Politikus, kalau dia juga negarawan, tentu bisa merasa terharu ketika melihat jutaan umat yang miskin, bodoh, dan sakit- sakitan. Masalahnya, masih adakah politikus-negarawan saat ini. Tidak! Politikus Indonesia saat ini adalah kaum yang kemaruk dan manja, pragmatis semua, dan selalu bermimpi tentang kejayaan diri. Umat dinomorsekiankan." "Baik, Mas Karso, saya setuju. Dengan demikian, siapa pilihan sampean untuk calon rais am dan ketua umum PB NU?" "Ah, saya kan tidak punya hak memilih. Walaupun begitu, saya punya kriteria. Yakni itu tadi; siapa saja yang bisa membuat kita tidak lagi merasa malu menjadi orang NU, silakan memimpin NU dan kita dukung. Mereka haruslah orang yang bisa melihat kemiskinan dan kebodohan umat sebagai alamat Allah. Dan kepada falah yang diridai Allah-lah, mereka akan membawa kita," jawab Mas Karso dengan mata menyala-nyala.

NU dan Kemiskinan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN 0 komentar


DALAM Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar yang ramai dibicarakan adalah soal calon pengurus, baik syuriyah maupun tanfidziyah PBNU. Pembicaraan kandidat rais aam dan ketua umum PBNU memang penting tetapi membahas program guna mengatasi persoalan umat juga sangat penting. Kalau yang pertama menyangkut intern organisasi, yang kedua selain intern juga mengait ekstern organisasi karena yang terakhir ini bertaliandengan sumbangsih NU dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Salah satu persoalan klasik yang dihadapi umat adalah masalah kemiskinan. Tentu masalah ini juga mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga lain, termasuk asing. Sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan, NU juga tidak mau ketinggalan berperan serta dalam mengatasi masalah kemiskinan ini. Bahkan sejak awal berdirinya, organisasi keagamaan tradisional ini telah merintis gerakan ekonomi kerakyatan yang diberi nama oleh KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai nahdlatu al-tujar ( kebangkitan perdagangan). Kemudian pada Muktamar Ke-1 tanggal 21 Oktober 1926 , NU antara lain membahas masalah hasil usaha suami istri (harta gono gini), dan masalah upah pekerja. (Ahkam Al-Fuqoha, hlm. 18). Hal ini menunjukkan bahwa NU berupaya agar masyarakat tidak hanya mencari bekal akhirat semata tetapi juga mencari kebahagiaan di dunia. Biro Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan ekonomi dalam mendefinisikan kemiskinan. Data dari BPS menunjukkan bahwa jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada 1996 jumlah penduduk miskin 34 ,01 juta ( 17 ,47 %) dan pada 1999 menjadi 47 ,97 juta (23 ,43 %). Berarti pada tahun 1996-1999 terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin 13 ,96 juta karena adanya krisis ekonomi. Kemudian tahun 2002 penduduk miskin berubah menjadi 38 ,40 juta, berarti terjadi penurunan dari 47 , 97 juta (23 ,43 %) pada 1999 menjadi 38 ,40 juta (18 ,20 %) pada 2002. Selanjutnya jumlah penduduk miskin turun lagi menjadi 35 ,10 juta (15 ,97 % ) pada 2005. Namun meningkat lagi jumlahnya pada Maret 2006 menjadi 39 ,05 juta (17 ,75 %). Dari data tersebut menunjukkan bahwa belum banyak prestasi pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan ini. Kemiskinan membuat jutaan anak-anak tidak bisa menempuh pendidikan berkualitas, dan mengalami kesulitan membiayai kesehatan. Kemiskinan juga telah membatasi hak-hak rakyat dalam memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan, dan memperoleh perlindungan hukum, memperoleh rasa aman. Juga membatasi hak untuk memperoleh akses atas kebutuhan hidup yang terjangkau, memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan, memperoleh keadilan, dan bahkan hak mereka dalam berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik dan pemerintahan. Dari berbagai analisis menganai kemiskinan di Indonesia dapat dipahami adanya tesis umum bahwa, kemiskinan yang terjadi bukan disebabkan karena penduduk miskin tidak mempunyai faktor-faktor kultural yang dinamis. Mereka miskin karena kesempatan-kesempatan tidak diberikan kepada mereka. Dengan adanya kesenjangan lebar antara penduduk kaya dan miskin maka upaya (ikhtiar) NU tidak sekadar mengentaskan (warga dari) kemiskinan tersebut dari sudut pandang agama, seperti mendorong pemeluknya giat beribadah dan bekerja secara seimbang serta distribusi sedekah, infak, zakat dan kurban semata, tetapi juga melakukan upaya advokasi kebijakan dan pendampingan kepada penduduk miskin untuk melakukan usaha ekonomi produktif. Tolong-menolong Gerakan ekonomi NU yang menonjol diekspose adalah pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan mendirikan beberapa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusuma serta mendirikan koperasi dan ruko serta rukan. Hal ini dilanjutkan oleh KH Hasyim Muzadi dengan mendorong PCNU mendirikan baitul mal wa tamwil (BMT) seperti di Semarang, Magelang dan daerah-daerah lain. Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan mempunyai program menarik yang dinamakan Nahdliyyin Centre ( NC). Konsep dasar NC ini adalah orang miskin menolong orang miskin. Banyak kegiatan sosial ekonomi yang mereka lakukan sebagai upaya tolong menolong ( taĆ­awun) dan kerja sama (syirkah) di antara mereka. Kemudian yang berbentuk advokasi kebijakan misalnya dilakukan oleh PWNU NTB dengan mendirikan Madrasah Anggaran yang merupakan ikhtiar mendorong warga untuk berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan di daerahnya. Kemudian PCNU Jepara dan PCNU Situbondo melakukan hal serupa dengan menggelar berbagai halaqah (diskusi) bedah APBD dengan mengikutsertakan para kiai, santri, dan tokoh masyarakat agar pemerintah lebih berkomitmen mengalokasikan anggaran untuk keperluan publik. Berbagai gerakan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian NU dalam masalah kemiskinan tersebut masih terbatas. Karena itu, melalui muktamar ke-32 , kita berharap agar hal ini dapat meluas menjadi gerakan sosial di kalangan nahdliyyin. (10) — Mohamad Muzamil, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com