English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Mengenal Pendiri NU : KH. M. Hasyim Asy'ari.

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Senin, 03 September 2012 0 komentar

Judul asli : Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari
(Pendiri Nahdlatul Ulama)
*Oleh : KH. Zakaria Anshor

Kelahiran dan Isyarat beliau
* KH. M. Hasyim Asy'ari dilahirkan pada hari Selasa Kliwon tanggal 14 Februari 1871 M. bertepatan dengan 24 Dzulqo’dah 1287 H di Pondok Gedang, sebuah pondok yang masyhur kala itu, di desa Tambak rejo- 2 KM. dari kota Jombang.
* Beliau berada dalam kandungan sang ibu selama 14 bulan.
Masyarakat jawa kala itu memiliki keyakinan bahwa masa kandungan yang panjang mengindikasikan kecemerlangan sang bayi dimasa mendatang.
* Suatu hari, ketika sedang menampi beras, Nyai Halimah, Sang ibu mendapati berasnya berubah wujud menjadi emas. Lantas beliau bergegas melaksanakan shalat Dhuha. Setelah shalat beliau berdoa: “Ya Allah, Saya tidak meminta harta, Saya hanya meminta kepadamu agar anak keturunanku menjadi orang-orang yang baik dan berguna bagi agama-Mu”.
* Saat kehamilannya sang ibu bermimpi melihat bulan purnama jatuh dari langit tepat mengenai perutnyayang sedang mengandung jabang bayi Hadhratus Syaikh.

Orang tua beliau
* Ayah Hadhratus Syaikh bernama Kiai Muhammad Asy’ari, seorang ulama tangguh berasal dari Gubug, Purwodadi, Jawa tengah. Beliau adalah keturunan kelima Abdurrahman alias Joko Tingkir.Menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren diantaranya Demak, Kudus, Jombang. Kemudian, di desa keras, beliau mendirikan masjid dan pondok pesantren sebagai pusat peribadatan dan pembelajaran bagi masyarakat sekitar. Dan disana pulalah beliau dimakamkan.
* Ibunya, Nyai Halimah , adalah putri pasangan Kiai Utsman dan Nyai Layinah. Kiai 'Utsman adalah pendiri pondok pesantren yang terletak di sebelah selatan pondok Gedang. Karena beliau ahli thoriqat, maka pondok beliau ini masyhur akan ilmu thoriqatnya. Ayah Nyai Layinah bernama Kiai Abdus Salam yang dikenal dengan gelar Kiai Sihah.

Pendidikan dan guru-guru beliau.
* ketika usianya mencapai 8 tahun, Hasyim kecil menerima didikan dari sang Ayah hingga usianya 13 tahun. Sebelumnya ia telah dididik oleh kakeknya di pesantren Gedang.
* Ketika usianya telah genap 15 tahun, dengan disertai doa dan restu orang tuanya, Hasyim mulai mengembara Thalabul ilmi di beberapa pondok pesantren di tanah Jawa. Diantara pesantren yang pernah beliau singgahi adalah ;
1. Pondok Pesantren Wonokoyo di Pasuruan,
2. Pondok Pesantren Langitan di Tuban,
3. Pondok Pesantren Trenggilis di Surabaya,
4. Pondok Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo, dan
5. Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Demangan-Bangkalan Madura.
* Pada tahun 1892 M. beliau pergi ke tanah haram untuk memperdalam ilmu disana. Diantara guru-guru beliau di Makkah ialah;
1. Syaikh Muhammad Mahfudz At-Tirmasi,
2. Syaikh Syuaib ibn Abdurrahman,
3. Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi,
4. Syaikh Ahmad Amin At-Ththar,
5. Syaikh Said Yamani,
6. Syaikh Bafaddlal,
7. Sayyid Abbas Al-Maliki,
8. Sayyid Sulthan Hasyim Ad-Daghistani,
9. Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Atthas,
10. Sayyid Alwi bin As-Segaf,
11. Sayyid Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi,
12. Sayyid Husain bin Muhammad Al-Habsyi, yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Hasyim muda juga sempat pula berguru pada;
13. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Aljawi,dan
14. Syaik Abdus Syakur, ulama Makkah asal Surabaya.
* Dari kesekian banyak guru-guru beliau yang paling berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan beliau adalah Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi, sehingga menjadikan beliau seorang ulama ahli hadits yang pertama di tanah Jawa.


SANAD-SANAD KEILMUAN.
* Sanad ilmu hadits beliau :
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi,
3. Syaikh Abi Bakr bin Muhammad Syatta Al-Makki,
4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan,
5. Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi,
6. Syaikh Muhammad bin ‘Ali Asy-Syanwani,
7. Syaikh ‘Isa bin Ahmad Al-Barawi,
8. Syaikh Ahmad Ad-Dafry,
9. Syaikh Salim bin Abdullah Al-Bishri,
10. Ayahnya Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishri,
11. Syaikh Muhammad bin A’lauddin Al-Babili
12. Syaikh Salim bin Ahmad As-Sanhuri,
13. Syaikh An-Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaithi,
14. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
15. Syaikh Al-Hafidh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Atsqalany,
16. Syaikh Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi,
17. Syaikh Abi Al-Abbas Ahmad bin Abi Thalib Al-Hijar,
18. Syaikh Al-Husain bin Al-Mubarak Az-Zabidi Al-Hanbaly,
19. Syaikh Abi Al-Waqt Abdul Awwal bin ‘Isa As-Sajasy
20. Syaikh Abdr Rahman bin Mudzaffr Ad-Dawudy,
21. Syaikh Abdullah bin Ahmad As-Sarkhasy,
22. Syaikh Abi Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Al-Faribary,
23. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin ‘Ismail Al-Bukhary bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardzabah (Imam Al-Bukhary)

* Sanad ilmu Fiqh beliau:
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi,
3. Syaikh Abi Bakr bin Muhammad Syatta Al-Makki,
4. Sayyid Ahmad bin zaini Dahlan,
5. Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi,
6. Syaikh Muhammad bin ‘Ali Asy-Syanwani,
7. Syaikh ‘Isa bin Ahmad Al-Barawi,
8. Syaikh Ahmad Ad-Dafry,
9. Syaikh Salim bin Abdullah Al-Bishri,
10. Ayahnya Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishri,
11. Syaikh mMansur Ath-Thukhi,
12. Syaikh Sulthan bin Ahmad Al-Muzahi,
13. Syaikh Nuruddin ‘Ali Az-Ziyadi,
14. Al-Imam Ibn Hajr Al-Haitami,
15. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
Dari jalur lain;
10. Syaikh Abdullah bin Salim Al Bishry,
11. Syaikh ‘Ali Asy-Syibromullasi,
12. Syaikh ‘Ali Az-Ziyadi,
13. Syaikh ‘Ali Al-Halaby,
14. Al-Imam Muhammad bin Ahmad Ar-Romli,
15. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-Anshary,
Dari jalur lain;
10. Syaikh Abdullah bin Salim Al-Bishry,
11. Syaikh Manshur Ath-Tukhi,
12. Syaikh Sulthon bin Ahmad Al-Muzahi
13. Syaikh Salim Asy-Syibsyiri
14. Syaikh Muhammad bin Ahmad alkhothib Asy-Syirbini
15. Syaikh Al-islam Zakaria bin Muhammad Al-anshary,
16. Syaikh Jalaludin Muhammad bin Ahmad Almahally
17. Syaikh Abi Zur’ah Ahmad bin Abd Rohim Al-Iraqy
18. Syaikh Abd Rohim bin Husain Al-Iraqy
19. Syaikh ‘Alauddin Al-‘Aththor
20. Al-imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-nawawy
21. Syaikh Kamaluddin Sallar Al-Ardabily
22. Syaikh Muhammad bin Muhammad Shohib Asy-Syamil
23. Syaikh Abd Ghofar Abd Rohman Al-Quzwiny
24. Al-imam Al-Qosim Abd Karim Ar-Rofi’i
25. Syaikh Ibn Fadhl bin Yahya,
26. Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghozaly
27. Syaikh Imam Al-Haramain,
28. Syaikh Abd Malik Al-Juwainy,
29. Syaikh Abdullah Al-Juwainy,
30. Syaikh Al-Qoffal As-Shoghir,
31. Syakh Abi Zaid Al-Mirwazy,
32. Syaikh Abi Ishaq Al-Mirwazy,
33. Syaikh Ahmad bin Suraij Al-Baghdady,
34. Syaikh ‘Utsman Al-Anmathi,
35. Syaikh Ismail Al-Muzany,
36. Al-Imam Al-A’dhom Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i,
37. Al-Imam Malik,
38. Al-Imam Nafi’
39. Ibn Umar bin Al-Khattab,
40. Shohibus Syari’ah Rasulillah Shallahu ‘Alaihi Wasalam

* Disamping itu ada silsilah yang menarik yang kesemuanya dari ulama Nusantara :
1. Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Al-Jumbani,
2. Syaikhina Kholil Bangkalan,
3. Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi,
4. Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari,
5. Syaikh Abd Shomad Al-Falimbany,
6. Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin Al-Falimbany,
7. Syaikh Muhammad Thoyyib bin Ja’far Al-Falimbany,
8. Syaikh Al-Musnid Ja’far bin Muhammad Badruddin Al-Falimbany,
9. Syaikh Al-Musnid Muhammad bin ‘Alauddin Albabily,
10. Syaikh Al-Musnid Ahmad bin Salim As-Sanhuri,
11. Al-Imam Ibn Hajar Al-Haitamy,
12. Syaikh Al-Islam Zakaria bin Muhammad Al-anshary.


BERTEMU DENGAN KH. AHMAD DAHLAN
*Diantara guru beliau ada seorang ulama kontroversial yaitu Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, seorang ulama Nusantara yang telah mendapat izin mengajar sekaligus menjadi imam dan khatib di Masjidil haram.
Beliau mendukung gerakan pembaharuan Islam yang saat itu sedang digalakkan oleh Muhammad Abduh di Mesir dalam hal menepis Islam dari pengaruh ajaran-ajaran thareqat. Sementara para ulama Nusantara lainnya yang berada di Makkah seperti Al-Imam Nawawi, Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi, Syaikh Abd Karim dsb semuanya mendukung gerakan thareqat seperti guru-guru Kiai Hasyim yang lain. Meski demikian Ahmad Khatib menolak konsep Muhammad Abduh yang mengajak umat Islam untuk tidak bertaqlid alias berijtihad sendiri-sendiri (langsung mengambil dari Al Qur’an.red).

* Dimajlisnya banyak santri-santri Indonesia yang belajar pada Syaikh Ahmad Khatib, terutama dari Sumatera,bahkan tidak sedikit yang kemudian tertarik dengan ide Muhammad Abduh dan kemudian mereka berpindah ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Dari mereka inilah awal munculnya gerakan modernisasi Islam di Indonesia. Dan di sinilah Kiai Hasyim bertemu dengan Ahmad Dahlan,seorang pendiri Muhammadiyah yang mengamini sepenuhnya pemikiran Ahmad Khatib. Sementara Kiai Hasyim dengan bekal ilmu dari tanah air yang cukup dan intensifitas beliau dengan Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah At-Tirmasi sama sekali tidak terpengaruh kecuali dengan semangatnya membangkitkan ummat Islam Nusantara dari keterpurukan.

JASA DAN PERJUANGAN.
Mendirikan Pesantren.
Sepulangnya di tanah air Kiai Hasyim Mendirikan Pondok Pesantren dengan membeli sebidang tanah milik seorang dalang ternama di desa Tebuireng, tepatnya pada tanggal 26 Rabi’ul awal 1317 H. (sekitar tahun 1899 M.). Di situlah beliau tinggal bersama santri-santri yang berawal hanya 8 orang. Kemudian dalam tempo 3 bulan jumlah santri bertambah hingga 28 orang.
*Pada mulanya beliau mendapat tantangan keras dari lingkungan yang memang dikenal sebagai kampung hitam, karena mayoritas penduduknya adalah pemabuk, penjudi, pencuri dan para perampok.
Berbagai gangguan dan rintangan telah mengancam beliau dan para santri hingga akhirnya beliau meminta bantuan para kiai di Cirebon yang terkenal akan keampuhannya itu. Mereka adalah; Kiai Sholeh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syansuri Wanantara, Kiai Abdul Jamil Buntet dan Kiai Abbas Kempek.
* Dari riadloh para Kiai inilah lambat laun musuh yang terdiri dari para preman dan geng desa Tebuireng akhirnya tunduk dan takluk di hadapan Kiai Hasyim. Bahkan diantara mereka ada yang minta diajari ilmu beladiri dan ilmu hikmah, bahkan tak sedikit pula yang akhirnya ikut menjadi santri dengan belajar, mengaji dan beribadah di pesantren tersebut.
* Keberadaan pesantren Tebuireng semakin diakui oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Tebuireng dan Jombang semata namun banyak pula orang-orang dari daerah lain yang ikut mondok menuntut ilmu pada Kiai Hasyim. Tercatat pada tahun 1915-an, Jumlah santri pesantren Tebuireng telah mencapai 2.000 orang yang berasal dari berbagai penjuru tanah air. Bahkan pondok pesantren Tebuireng mendapat pengakuan resmi oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 6 Februari 1907 M.

Mendirikan Jam’iyyah NU.
Cepat atau lambat gerakan pembaharuan Islam oleh Wahhabi di Arab Saudi sampai juga di Nusantara yang dibawa oleh sebagian alumni-alumni dari Timur Tengah. Sebagai langkah antisipasi, pada tanggal 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. di kampung Kertopaten Jombang Jawa timur, beliau mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama bersama KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan ulama-ulama besar lainnya, dengan azas dan tujuan yangnya “Memegang teguh pada salah satu mazhab yang empat dan mengerjakan apa apa yang membawa kemaslahatan bagi agama Islam”.
* KH.Hasyim Asy’ari terpilih menjadi Ro’is Akbar NU, sebuah jabatan ditubuh NU yang hingga kini tidak ada seorangpun yang menyandangnya. Beliau jualah yang menyusun Qonun Asasi (peraturan Dasar) yang menjadi acuan dasar garis perjuangan NU dalam menjaga dan melestarikan faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. NU sebagai wadah yang menghimpun ulama Nusantara dengan sistem organisasi, tentu bukan hal mudah untuk menyatukan ulama yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya.
* Beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan membuka peluang yang lebih besar bagi lawan untuk menghancurkannya, baik itu penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar syi’ar Islam di Nusantara, dengan cara mengadu domba antar sesame. Oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama ulama lainnya.

Mendirikan Majalah.
* Untuk membudayakan tulis menulis dikalangan warga NU, bersama KH.Abdul Wahab Chasbullah, beliau mendirikan “Soeara Nahdlatoel Oelama” majalah yang edisi perdananya terbit pada tanggal 1 Shafar 1346 H./ 1930 M. (empat tahun setelah NU didirikan). Selain berisikan informasi penting tentang laju perkembangan NU, didalamnya juga menyuguhkan berita-berita aktual seputar nasional. Majalah ini memiliki cirri khas yang tak dijumpai di surat kabar lainnya, yakni bertuliskan jawa pegon (bahasa jawa yang ditulis dengan huruf hija’iyah) -hal ini memungkinkan kaum kolonial / Belanda tidak bisa menyerap sepenuhnya informasi dari majalah ini-,red. Atas prakarsa dari beliau inilah kini telah beredar banyak majalah NU di Nusantara yang menjadikan generasi muda NU gemar untuk tulis menulis.
* Beliau juga sering mengisi kolom pada majalah dan surat kabar pada waktu itu, seperti Pandji Masjarakat, Soeara Masjoemi, dan Soeara Nahdlatoel Oelama sendiri. Tulisan beliau biasanya berbentuk artikel, fatwa, ceramah dan jawaban atas pertanyaan para pembaca (beliau sebagai pengasuh rubric Tanya jawab masalah fiqhiyah).
* Disamping itu beliau juga berperan besar pada pendirian kelompok-kelompok diskusi seperti Nahdlatoel Wathon (kebangkitan tanah air), didirikan pada tahun 1916, dan Taswirul Afkar pada tahun 1918. (Dikenal juga dengan nama Nahdlatul Fikri atau kebangkitan pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (pergerakan kaum saudagar). Serikat ini dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Sedangkan Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat kala itu, hingga memiliki cabang di beberapa kota.
* Waktu yang digunakan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menulis biasanya adalah pagi hari antara jam 10.00 sampai menjelang Dhuhur. Selain untuk menulis, waktu ini biasanya beliau gunakan untuk istirahat, membaca kitab dan atau menerima tamu yang rata-rata sekitar 50 orang setiap harinya.


Karya-karya beliau.
* Diantara karya-karya beliau adalah;
1. Al-tibyan fi an-nahy’an muqatthah al-arham wa al-aqarib wa al-ikhwan. Berisi penjelasan tentang larangan memutus silaturrahim sanak family, kerabat dan saudara.
2. Mukaddimah al-qanun al-asasy li jam’iyyah nahdlat al ‘ulama, Berisi pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdlatul Ulama.
3. Risalah fi ta’kid al akhdz bi mazhab al aimmah al arba’ah, Risalah yang menerangkan memperkuat berpegang teguh pada madzhab empat.
4. Mawaidz, Berisi beberapa nasihat penting.
5. Arba’in haditsan tata’alliq bi mabadi’ jam’iyyah nahdlat al ‘ulama , Berisi 40 hadits Nabi yang terkait dengan dasar-dasar jam’iyah Nahdlatul Ulama.
* Kelima kitab beliau yang disebut diatas dihimpun menjadi satu kitab yang diberi nama At-Tibyan, berjumlah 41 Halaman.

6. An nur al mubin fi mahabbah sayyid al mursalin, kitab yang menerangkan cinta kepada pimpinan para rasul, Rasulullah SAW.
7. At tanbihat al wajibat liman yashna al maulid bi al munkarat. Berisi peringatan bagi yang mengadakan perayaan maulid dengan dicampuri perbuatan yang dilarang syari’at.
8. Risalah ahlu al sunnah wa al jama’ah fi al hadits al mauta wa syar as sa’ah wa bayan mafhum al sunnah wa al bid’ah, Risalah yang menerangkan hadits-hadits yang menjelaskan tentang kematian serta tanda-tanda hari kiamat dari sudut pandang Ahlussunnah wal Jama’ah.
9. Ziyadah ta’liqat a’la mandzumah as syaikh ‘abdullah bin yasin al fasuruany, Berisikan tambahan terhadap nadzom syaikh ‘abdullah bin yasin al fasuruany.
10. Dzu’ul misbah fi bayan ahkam an nikah, Cahayanya sebuah pelita yang benderang tentang hokum-hukum pernikahan.
11. Ad durasul muntasyirah fi masa’il tis’a ‘asyarah, Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah.
12. Hasyiyah ‘ala fath ar rahman bi syarah risalah al wali ruslan li syaikh al islam zakariya al anshari, Komentar atas kitab Fathur Rahman penjelas kitab Risalah Al Wali Ruslan karya Syaikh Al Islam Zakariya Al Anshari.
13. Ar risalah al tauhidiyah, Berisi Risalah tentang ketauhidan.
14. Al qala’id fi bayani ma yajibu min al aqa’id, Juga menerangkan tentang Tauhid.
15. Ar risalah fi al tashawuf , Menerangkan tentang ilmu Tashawuf.
16. Adab al ‘alim wa al muta’allim fi ma yahtaju ilaihi al muta’allim fi ahwal ta’limih wa ma yatawaqqaf ‘alaihial mu’allim fi maqat ta’limih, Kitab penting berisi kode etik para Kiai dan santri.
Kitab ini dianggap paling fenomenal, Menjadi salah satu bidang studi di berbagai lembaga pendidikan. Juga sering dijadikan para mahasiswa dalam membuat tesis maupun skripsi.

Gelar Hadhratus Syaikh.
* Bila Kiai Kholil Bangkalan terkenal dengan sebutan “Syaikhona Waliyullah”, Maka KH. M. Hasyim Asy’ari mendapat gelar “Hadhratus Syaikh”. Gelar Maha Guru ini muthlaq diberikan kepada Kiai Hasyim sebab hampir seluruh ulama di tanah Jawa pernah berguru kepada beliau.Tercatat seperti KH. Abdul Karim, Pendiri ponpes Lirboyo Kediri, KH. Wahab Chasbullah, ponpes Tambak beras, KH. Romli, ponpes Darul ‘ulum, Dll.
* Meski demikian, Hal ini tidak membuat beliau sombong, beliau tidak pernah menyebutkan gelar itu sama sekali. Padahal beliau sangatlah patut menyandang gelar tersebut.terbukti pada manuskrip asli karya-karya beliau, Disana tidak tercantum embel-embel tersebut menyertai nama beliau, seperti kiai, haji, syaikh, ‘alim, apalagi ‘allamah. Akan tetapi beliau lebih memilih embel-embel yang sifatnya merendahkan diri kepada Allah SWT, beliau selalu menyertakan kata-kata Al-Faqir, Al-Haqir, sebelum namanya disebut.
Inilah salah satu sifat tawadlu’ yang beliau miliki.

Kepergian Beliau.
* Bagaimana pun hebatnya seorang manusia hidup didunia, pasti tak luput dari maut yang menjemput. Tak terkecuali Hadhratus Syaikh sebagai manusia biasa, beliau dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa pada malam Ramadhan, tepatnya tanggal 7 Ramadhan 1366 H.bertepatan dengan 21 Juli 1947 M.
* Kepergian Hadhratus Syaikh untuk salama-lamanya bukan hanya membawa kesedihan bagi umat Islam Indonesia, Luar negeri pun turut berduka. Mereka merasa sangat kehilangan seorang tokoh yang mereka banggakan.

Semoga apa yang beliau tempuh selama hidupnya dibalas oleh Allah dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga dengan kepergian Kiai Hasyim, akan muncul Hasyim Asy’ari- Hasyim Asy’ari yang lain, baik dari dzuriyah, kerabat, santri maupun kaum muslimin. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin.
(Khulasah manaqib ini disampaikan pada kegiatan diklat Ahlus Sunnah wal jama’ah di Ponpes Al-Mubarok, Medono, Pekalongan. bulan Ramadhan 1433 H).


*Penulis adalah pengasuh Ponpes Al-Mubarok, Medono, Pekalongan.




Redaksi memohon kepada pembaca yang budiman untuk mendoakan penulis agar diberi umur yang panjang dalam sehat dan afiyat serta istiqomah didalam berjuang untuk agama Allah.(redaktur)

JASA PRESIDEN SOEKARNO DALAM MENJAGA MAKAM IMAM BUKHORI

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 04 April 2012 0 komentar


Soekarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaikinya. Ia bahkan sempat menawarkan agar makam dipindahkan ke Indonesia apabila Uni Soviet tidak mampu merawat dan menjaga makam tersebut. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya…

SAAT itu. Jumat (25/11), tim ekspedisi tengah melintas Kota Samarkand, Uzbekistan, dalam perjalanan menuju Turkmenistan. Langit sudah gelap.

Kompleks makam Imam Bukhari yang megah terlihat laksana istana raja. Penerangan di sana seadanya karena sudah tidak ada lagi peziarah yang berkunjung.

Imam Bukhari ialah seorang pengumpul hadis sahih Nabi Muhammad SAW. Makamnya terletak di Samarkand, Uzbekistan. Tim Fas-tron Europe-Asia Metro TV Expedition 2011 mendapat kesempatan langka berziarah ke sana, bahkan langsung masuk ke ruang bawah tanah tempat jenazah Imam Bukhari bersemayam. Padahal biasanya para peziarah yang berasal dari berbagai suku bangsa hanya boleh masuk sampai ruang atas kompleks permakaman.

Kompleks serta-merta menjaditerang benderang kala perwakilan ekspedisi menemui pengelola makam dan mengungkapkan bahwa rombongan berasal dari Indonesia dan ingin berziarah.

Tak lama kemudian, Rahmatullo Sultonov, juru kunci makam yang berjilbab, hitam, keluar dari bangunan dan langsung mengarah ke ruang bawah tanah makam Imam Bukhari. Anggota ekspedisi diminta melepaskan sepatu sebelum masuk ruangan yang beralaskan karpet warna hijau tersebut.

Ruangan berdinding batu bata itu mampu menampung sekitar 10 orang, dilengkapi bangku untuk para peziarah. Makam ada di tengah ruang, berselimutkan kain hitam, bertulisan Arab warna kuning. Nuansa begitu khidmat saat berada di sana.

Setelah mengajak anggota tim ekspedisi untuk membaca beberapa surah pendek Alquran, Rahmatulloberkisah, kompleks permakaman Imam Bukhari tidak mungkin seindah dan semegah itu tanpa peran Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia.

Ketika Uzbekistan masih termasuk Uni Soviet, Soekarno-dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet pada 1959-pernah meminta petinggi Partai Komunis untuk mencarikan makam orang suci Islam yang sangat terkenal bernama Imam Bukhari.

Setelah tiga hari pencarian, makam Imam Bukhari ditemukan. Soekarno naik kereta dari Moskow ke Samarkand, tempat Bukhari meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan sekitar tahun 870.

“Beliau tiba pada malam hari dan langsung membaca Alquran sampai pagi hari, tidak tidur,” lanjut Rahmatullo seperti diterjemahkan Temur Mirzaev, rekanan Kedutaan Besar Republik Indonesia sekaligusdosen bahasa Indonesia di Institute of Oriental Studies, Tashkent.
Saat ditemukan, makam dalam kondisi tidak terurus. Soekarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaikinya. Ia bahkan sempat menawarkan agar makam dipindahkan ke Indonesia apabila Uni Soviet tidak mampu merawat dan menjaga makam tersebut. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

“Bangsa Indonesia sangat berjasa bagi keberlangsungan makam Imam Bukhari. Sebenarnya makam sudah tutup untuk pengunjung karena hari sudah malam. Tapi, karena orang Indonesia yang datang, makanya dibukakan,” tutur Temur.

Juru kunci menutup ziarah dengan doa dan suasana pun mendadak hening. Dalam doanya, ia berharap perjalanan tim ekspedisi sukses dan selamat sampai tujuan.



Bung Karno Mencari Makam Imam Bukhori

DI Tashkent tidak ada jalan bernama Bung Karno. Tapi bukan berarti rakyat Uzbekistan ini tidak mengenal presiden pertama Republik Indonesia itu.

Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW. Begini ceritanya. Tahun 1961 pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow. Kayaknya Khrushchev hendak menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet.

Karena bukan orang lugu, Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Bung Karno tahu, kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun.

Bung Karno mengajukan syarat. Kira-kira begini kata Bung Karno, “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak.”

Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”

Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”

Jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa lagi ini Imam Al Bukhari. Dasar orang Indonesia, ada-ada saja. Mungkin begitu sungutnya dalam hati. Tidak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam itu, yang jelas hasilnya nihil.

Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno. “Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?”

Bung Karno tersenyum sinis. “Kalau tidak ditemukan, ya udah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda.”

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev balik kanan, memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini. Nah, akhirnya setelah bolak balik sana sini, serta mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam kelahiran Bukhara tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tak terawat.

Imam Al Bukhari yang memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia itu dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.

Khrushchev memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin.

Selesai renovasi, Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya, misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil. Sambil tersenyum Bung Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda.” Setelah dari Moskow, tanggal 12 Juni 1961 Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.
(Sumber)










K.H. Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU) : Lambang NU Diperoleh Lewat Mimpi

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 28 Maret 2012 0 komentar


Pelukis berbakat alam ini, bersama Wahab Chasbullah dan Mas Abdul Aziz, adalah trio yang berjasa kepada NU. Kenapa demikian? Malam itu Ridwan Abdullah (63 tahun) tertidur nyenyak di pembaringannya. Sebelum tidur, ia telah melaksanakan shalat istikharah, minta petunjuk Allah. Kakek sekian cucu itu terdesak waktu. Hasil karyanya ditunggu untuk dikibarkan di forum muktamar kedua Nahdlatul Ulama (NU) di salah satu hotel di Surabaya dua hari lagi. Padahal, ia telah menyanggupi sejak dua bulan sebelumnya, ketua panitia muktamar, K.H. Wahab Chasbullah, juga telah mengingatkan dirinya. Entah kenapa ilham untuk menciptakan lambang jam’iyyah ulama yang baru didirikan oleh Hadhratusy Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari tahun lalu itu sulit didapat. Masalahnya, dia juga tidak mau sembarangan. Itu karena jam’iyyah ulama tersebut merupakan organisasi yang menghimpun ahli agama, sehingga lambangnya juga harus mencitrakan keberadaan, kepaduan, kesungguhan, dan cita-cita yang ingin dicapai. Keinginan yang begitu luhur itu terus didesak waktu.

Lambang NU Diperoleh Lewat Mimpi
Ketika malam telah larut dan Ridwan Abdullah terbuai tidur dalam nyenyak di keheningan malam, dia mimpi melihat gambar di langit biru. Ketika terbangun, jam dinding menunjuk angka dua. Segera diambilnya kertas dan pinsil dan ditorehkannya gambar mimpi itu dalam bentuk sketsa. Akhirnya, coretan itu pun selesai. Pada pagi harinya, sketsa itu disempurnakan lengkap dengan tulisan NU, huruf Arab dan Latin.

Hanya dalam waktu satu hari, lambang itu selesai, sempurna wujudnya seperti yang kita kenal sampai hari ini. Maklum, kiai Ridwan memang dikenal sebagai ulama yang punya keahlian melukis. Itulah sebabnya K.H. Wahab Chasbullah menugasinya membuat lambang jam’iyyah tersebut.
Namun, untuk merepresentasikannya di atas kain, dia kesulitan mencari bahan yang pas. Saking percaya kepada mimpinya, Ridwan juga berusaha mencari warna yang tepat dengan yang dilihatnya di mimpi. Namun, tidak mudah menemukan warna seperti itu. Beberapa toko kain di Surabaya yang didatangi tidak punya persediaan kain seperti itu. Akhirnya, di Malang kain itu ditemukan. Itu pun Cuma selembar, berukuran 4 meter x 6 meter. ‘Tak apalah,” pikirnya. Maka, di atas kain warna hijau ukuran 4 x 6 itulah, lambang NU pertama kali ditorehkan oleh pelukisnya, K.H. Ridwan Abdullah. Besoknya, 9 Oktober 1927, lambang itu dipancang di pintu gerbang Hotel Paneleh, Surabaya, tempat berlangsungnya muktamar NU kedua. Hal itu memang disengaja untuk memancing perhatian warga Surabaya, baik terhadap lambangnya maupun kegiatan muktamar itu sendiri. Maklum, segalanya masih baru bagi masyarakat. Umpan itu mengena. Pejabat yang mewakili pemerintah Hindia Belanda datang dari Jakarta. Saat mengikuti upacara pembukaan, dia dibuat terpana dan penasaran demi melihat lambang tersebut. Dia lantas bertanya kepada Bupati Surabaya yang berdiri di sampingnya. Karena sang Bupati tidak bisa menjawab, pertanyaan itu diteruskan kepada shahibul bait, H. Hasan Gipo. Ternyata yang punya gawe pun sama saja: tak tahu menahu! Dia hanya bisa mengatakan bahwa lambang itu dibuat oleh H. Ridwan Abdullah.

Selanjutnya, seperti yang dituliskan dalam buku Karisma Ulama, bahwa untuk menjawab teka-teki makna lambang NU itu dibentuk majelis khusus. Beberapa wakil dari pemerintah dan para kiai dilibatkan dalam forum tersebut, termasuk Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Di depan forum tersebut, K.H. Ridwan Abdullah memberikan presentasi untuk pertama kali. Dalam penjelasannya (menurut keterangan sebagian guru saya : K.H. Ridwan Abdullah menjelaskannya dengan bicara tanpa sadar/ istilah lainnya apa ... irtijal ?),
Kiai Ridwan menguraikan bahwa tali ini melambangkan agama sesuai dengan firman Allah “Berpeganglah kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai.” (Q.s. Ali Imran: 103). Posisi tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah (persatuan) kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali berjumlah 99 melambangkan asmaul husna. Bintang sembilan melambangkan Wali Sanga. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad Saw. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba’ah (madzhab yang empat). Walhasil, seluruh peserta majelis sepakat, menerima lambang itu dan membuat rekomendasi agar muktamar kedua memutuskan lambang yang diciptakan oleh Kiai Ridwan tersebut menjadi lambang NU.

Kiai Raden Muhammad Adnan, utusan dari Solo, kemudian merumuskan uraian Kiai Ridwan tadi pada acara penutupan muktamar dengan mengatakan: “Lambang bola dunia berarti lambang persatuan kaum muslimin seluruh dunia, diikat oleh agama Allah, meneruskan perjuangan Wali Sanga yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang dibingkai dalam kerangka madzhab empat.
Kelak, 27 tahun kemudian, pada 1954, Kiai Ridwan mengulangi presentasinya itu, namun dalam bentuk utuh. Hal itu terjadi pada muktamar ke-20 NU di Surabaya. Lambang dunia, yang dibikin bulat seperti bola hingga dapat diputar, diletakkan di medan muktamar, yaitu di depan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Bakat Alam Kiai Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah Belanda. Agaknya di situlah, dia mendapatkan pengetahuan teknik dasar menggambar dan melukis. Dia tergolong murid yang pintar, sehingga ada orang Belanda yang ingin mengadopsinya. Belum selesai sekolah di situ, orangtuanyan kemudian mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon. Ayah Kiai Ridwan, Abdullah, memang berasal dari Cirebon, Ridwan adalah anak bungsu.
Dari Buntet, Ridwan masih mengembara mencari ilmu ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, dan Pesantren Bangkalan, Madura, asuhan Kiai Cholil. Di Pesantren terakhir itulah, Ridwan menimba ilmu cukup lama dibanding yang di tempat lain. Sebagai kiai, Ridwan lebih banyak bergerak di dalam kota. Dalam beberapa hal, dia tidak sependapat dengan kiai yang tinggal di pedesaan. Misalnya, sementara kiai di pedesaan mengaharamkan kepiting, ia justru menghalalkan. Ia dapat dikategorikan sebagai kiai inteletual. Pergaulannya dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto cukup erat. Apalagi, tempat tinggal mereka tidak berjauhan dengan rumahnya, di Bubutan Gang IV/20. karena tidak punya pesantren, ia sering megadakan dakwah keliling, terutama pada malam hari, yaitu di kampung Kawatan, Tembok, dan Sawahan. Sebelum NU berdiri, Kiai Ridwan mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan – lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1916 – dan terlibat dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918), dua lembaga yang menjadi embrio lahirnya organisasi NU. Ketika NU sudah diresmikan, ia aktif di Cabang Surabaya dan mewakilinya dalam muktamar ke-13 NU di Menes, Pandeglang, pada tanggal 15 Juni 1938.

Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Ridwan menikah dua kali. Pernikahan pertama terjadi pada tahun 1910 dengan Makiyyah. Setelah dikaruniai tiga anak, sang istri meninggal dunia. Yang kedua dengan Siti Aisyah, gadis Bangil, yang dicomblangi oleh sahabatnya, Kiai Wahab Chasbullah. Kiai Ridwan wafat 1962, pada umur 78 tahun, dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Kiai Wahab Chasbullah (pendiri NU), K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (pencipta nama NU), dan K.H. Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) dikenal sebagai “tiga serangkai NU.”











Syaikh Yasin Isa Al-Fadani , Ensiklopedia Islam Berjalan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Selasa, 20 Maret 2012 0 komentar


Dalam dekade lima puluhan yang lalu,halaqah hadis SYAIKH MUHAMMAD YASIN AL PADANGI dibanjiri ramai penuntut dari dalam dan luar Mekkah,untuk mendengar kuliah hadis yang disampaikan oleh Syeikh Yasin serta memperoleh sanad hadis yang istimewa.Penuntut-penuntut dari Malaysia juga tidak ketinggalan untuk turut bersaing dalam halaqah ini.

Tokoh yang sedang diperkatakan disini ialah Syaikh Yasin seorang ulama ensiklopedia.Beliau pakar dalang bidang hadis .fiqh,usul fiqh dan ilmu falak. Kepakaran beliau dalam bidang hadis dapat dilihat pada gelaran para ulama pada beliau iaitu “Musnid Dunya”Nama penuh beliau Abu al-Faid Muhammad Yasin Bin Isa al-Fadani ,dilahirkan pada tahun 1335 H/1916 M di daerah Padang Indonesia dan wafat di Makkah pada 28 Dzulhijjah 1410 H/21 Julai 1990 M pada hari Khamis malam Jumaat.

Riwayat Syeikh al-fadani yang coba Saya paprkan ini, bukan ulama tempatan yang biasa diperkenalkan melalui akhbar dan majalah, bukan seorang Tuan guru yang pernah membuka pondok lalu namanya terukir bersama nama kampung, pondok dan jama’ahnya. Tetapi beliau seorang Ulama yang sebanding dengan nama seperti Imam Abu al-Taib Syamsyuddin al-‘Azim Abadi dan Syeikh Muhammad Khalil as-Saharanpuri. Syeikh al-Fadani bertemu dengan dua nama ini dalam satu kurun mereka merupakan pengarang kitab Syarah Sunan Abu Daud, salah satu koleksi hadis yang mahsyur.

Tokoh ini seorang ulama yang terkenal luas pengetahuannya dalam bidang
hadis ,terutama dalam pengkhususan sanad dan musalsalat. bahkan beliau diberi julukan Musnid al-‘Asr.

Tidak terkejut jika Syeikh al-Fadani dikejar dan diburu oleh pencipta sanad hadis untuk mendapatkan silsilahnya yang lebih tinggi.Kepentingan sanad dalam perawian hadis digambarkan oleh Imam Abdullah Ibn Mubarak rahimullah ta’ala sebagai keperluan untuk mempertahankan agama Islam itu sendiri..Sehubungan ini, beliau berkata :

لولا الاسناد لقال من شاء ما شاء الاسناد من الدين
“Sanad sebahgian dari agama ,tanpa sanad orang bebas bercakap apa yang disukainya”

Sejarah mencatatkan para ulama hadis pernah merantau berbulan lamanya demi mendapatkan satu hadis menelusuri sanad yang tinggi dan dipercayai ada di negeri –negeri tertentu,mereka sedia mengeluarkan biaya yang besar,hanya untuk mendapatkan satu hadis.

Syeikh Yasin murid yang sangat rajin dan tekun dalam menuntut ilmu dan belajar pada ulama , maka tidak heran kalau beliau mempunyai banyak guru, diantara guru-gurunya adalah:

1. Syeikh Muhammad Ali bin Husain bin Ibrahim al-Maliky al-Makky

2. Syeikh Abi Ali Hasan bin Muhammad Massath al-Makky

3. Syeikh Umar bin Hasan Al-Mahrasi al-Maliky

4. SyeikhUmar Bajunaid (Mufti as-Syafi’iyah)

5. Syeikh Said bin Muhammad al-Yamani

6. Syeikh Hasan Yamani

7. Syeikh Muhsin bin Ali al-Musawi al-Falembani al-Makky

8. Syeikh Abdullah Muhammad Ghozi al-Makky

9. Syeikh Ibrahim bin Dawud al-Fathoni al-Makky

10. Sayyid Alawy bin Abbas al-Maliky al-Makky

11. Sayyid Muhammad Amin Kutbi al-Makky

12. Syeikh Ahmad al-Mukhollalati al-Sami al-Makky

13. Syeikh Kholifah al-Hanadi al-Nabhani al-Bahraini al-Makky

14. Syeikh Ubaidillah bin al-Islam al-Sindi al-Duyubandi

15. Syeikh Husain Ahmad al-Faidz Abbadi

16. Syeikh Abdul Qodir bin Taufiq al-Halabi

17. Syeikh Muhammad Abdul baqi al-Laknawy al-Ansori

18. Syeikh Abdul hadi al-Midrasi

Mereka adalah sebagian dari guru-guru Syeikh Yasin dalam belajar kitab dan Ijazah Sanad Perawi hadis, dan masih banyak lagi guru-guru beliau, bahkan dalam ilmu Riwayat Sanad hadist beliau banyak menemui ulama-ulama dari berbagai Negara sampai 700 guru baik lelaki maupun perempuan hanya demi mendapatkan Riwayat Sanad hadist.

KARYA ILMIAH DAN KARANGANNYA

*Dalam ilmu Hadis
1. Al-Durul al-Mandhut Sarah Sunan Abi Dawud 3 Jilid
2. Fatfu al-Allam Sarah Bulughu al-Maram 4 juz

*Ilmu Ushul Fiqh dan Qowaidul Fiqh
1. Bughyatu al-Mustaq sarah Luma’ Syeh Aby Ishaq 2 Juz
2. Hasiyah ala al-Ashbah wal al-Nadhoir fil furu’ al- Fiqhiyyah lil-Suyuty
3. Tatmimu al-Duhul Takliqot ala Madkholi al-Wusul ila al- Ilmi al-Ushul
4 . Al-Durru al-Nadhid hawasyi ala kitab al-Tamhid lil-Asnawi Al-Fawaid al-Janiyyah hasiyah ala al-Mawahibu al-Saniyyah ala qowaid al-Fiqhiyyah
6. Ta’liqot ala al-luma’ al-Syeh Abi Ishaq
7. Idhoatu al-Nur al-Lami’ syarah al-Kaukabu al-Syathi’ (nadhom) Jam’u al-Jawami’
8. Hasiyah ala al-Talattufi sarah al-Ta’arruf fi al-Ushul Fiqhi
9. Nailu al-Ma’mul hasyiah ala Lubbi al-Ushul wa sarkhihi Ghoyatu al-Wushul

*Dalam berbagai ilmu
1. Janiu al-Tsamar syarah Mandhumah Manazil al-Qomar
2. Al-Muhtadhor al-Muhadzab fi Ihtihroji al-Auqat wa al- qobilah bi al-Rub’i al-Mujib
3. Al-Mawahibu al-Jazilah sarah Tsamratu al-Wasilah fi al- Falaki
4. Tastnifu al-Sam’i Muhtashor fi ilmi al-Wadh’i
5. Bulghotu al-Mustaq fi ilimi al-Istiqaq
6. Manhalu al-Ifadah hawasi ala Risalati al-Bahsi Lathosyi Kubri Zadah
7. Husnu al-Shiyaghoh syarah kitab Durusi al-Balaghoh
8. Risalah fi al-Mantiqi
9. Ithafu al-Kholan Taudhihu Tuhfatu al-Ikhwan fi Ilmi al- Bayan li al-Dardiri
10. Al-Risalah al-Bayaniyyah ala Thoriqati al-Sual wa al-Jawab

*Dalam Ilmu Riwayat Sanad
1. Madmahu al-Wujdan fi Asanidi al-Syeh Umar Hamdan 3 Juz
2. Ithafu al-Ihwan bi Ikhtishori Madmahi al-Wujdan 2 Juz
3. Tanwiru al-Bashirah bi Turuqi al-Isnad al-Syahirah
4. Faidzu al-Rahman fi Tarjamati wa Asanidi al-Syeh Kholifah bin Hamdi al-Nabhan
5. Al-Qaulu al-Jamil bi Ijazati al-Sayyid Ibrahim Aqil
6. Faidzu al-Muhaimin fi Tarjamati wa Asanidi al-Sayyid Muhsin
7. al-Maslak al-Jaly fi Tarjamati wa Asanidi al-Syeh Muhammad Aly
Al-Waslu al-Sati fi Tarjamatiwa Asanidi al-Sihab Ahmad al-Mukhollalati
9. Asanidu Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki
10. Al-Irsyadat fi Asanidi Kutub al-Nahwiyyah wa al-Shorfiyyah
11. Al-Ujalah fi al-Ahaditsi al-Musalsalah
12. Asma al-Ghoyah fi Asanidi al-Syeh Ibrahim al-Khozami fi al-Qiroah
13. Asanidu al-Kutub al-Hadisiyyah al-Sab’ah
14. Al-Iqdu al-Farid min Jawahiri al-Asanid
15. Ithafu al-Bararah bi Ahadisi al-Kutub al-Hadisiyyah al- Asyrah
16. Al-Riyadz al-Nadzrah fi Ahadisi al-Kutub al-Hadisiyyah al- Asyirah
17. Ithafu al-Mustafid bi Nuri al-Asanid
18. Qurratu al-Ain fi Asanidi A’lamu al-Haramain
19. Ithafu uli al-Himam al-Aliyyah bi al-Kalam ala al-Hadist al- Musalsal bi al-Awwaliyyah
20. Waraqat fi Majmuati al-Musalsalat wa al-Awa’il wa Asanid al-Aliyyah
21. Al-Durru al-Farid min Durari al-Asanid
22. Bughyatu al-Murid min Ulumi al-Asanid 4 Jilid
23. Al-Muqtathaf min Ithafi al-Akabir bi Marwiati Abdul Qadir al-Shodiqi al-Makky
24. Ihtishor Riyadhi Ahli Jannah min Atsari Ahli Sunnah li Abdi al-Baqi al-Ba’li al-Hambali
25. Faidzu al-Ilah al-Aly fi Asanidi Abdul Baqi al-Ba’li al- Hambali
26. Arbauna Haditsan mi Arba’ina Kitaban an Arbaina Syaikhan
27. Al-Arba’una al-Buldaniyyah Arba’una Haditsan an Arba’ina Syaihan an Arba’ina Baladan
28. Arbauna Hadistan Musalsal bi al-Nuhad ila al-Jalal al- Suyuti
29. Al-Salasilu al-Muhtarah bi ijazati al-Mu’arrih al-Sayyid Muhammad bin Muhammad Ziarah
30. Tidzkaru al-Masafi bi Ijazati al-Fahri Abdullah bin Abdul Karim al-Jarafi
31. Al-Nafhatu al-Makkiyah fi Al-Asanidi al-Makkiyah Ijazah li al-Nabighoh al-Khodhi Muhammad bin Abdullah al- Umari
32. Fathu al-Rabbi al-Majid fima li Asyakhi min Fara’idi al- Ijazah wa al-Asanid
33. Silsilatu al-Wuslah Majmu’ah Muhtarah min al-Ahadisti al- Musalsal
34. Al-Kawakibu al-Darari bi ijazati mahmud Said mamduh al-hohiri
35. Faidhul Mabdi bi ijazati al-Syeh Muhammad Iwad Mankhos al-Zubaidi
36. Al-Faidhu al-Rahmani bi Ijazati Samahati al-Allamah al Kabir Muhammad Taqi al-Ustmani

TULISAN ATAU TA’LIQ BELIAU DALAM TSABAT
1. Nihayatu al-Mathlab ala al-Abbi fi Ulumi al-Isnad wa al-Adab
2. Risalatani ala Tsabati al-Amir (al-Durru al-Nadhir wa al-Raudhu al-Nadhir fi Majmu’i al-Ijazat bi Tsabati al-Amir)
3. Risalati ala al-Awa’il al-Sunbuliyyah (al-Ujalah al-Makkiyyah wa al-Nafhatu al-Makiyyah )
4. Waraqat ala al-Jawahir al-Tsamin fi Arba’I an Hadistan min Ahadisti Sayyidi al-Mursalin, li al-Ajluni
5. Ithafu Albahi al-Sary ala Tsabati Abdul Rahman al-Kazbary
6. Ta’liqat ala Kifayati al-Mustafid li al-Syeh al-Turmusy
7. Tahqiqu al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyati al-Syarqawi

Perintis Madrasah Banat

Karena keprihatin beliau pada masyarakat Islam maka pada bulan Rabiulawal tahun 1362 H Syeikh Yasin merintiskan dan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah banat atau putri di Syamiyyak Makkah al-Mukaramah. Perjalan Madrasah banat ini dari tahun ke tahun berkembang pesat, hal ini terbukti semakin banyaknya pelajar dan alumni, karena Madrasah banat ini adalah yang pertama di kota Makkah bahkan di kerajaan Saudi Arabia, sehingga pada tahun 1347 H didirikan Maha’ad Muallimat.

Syeikh Yasin wafat pada hari Kamis malam Jum’at tanggal 28 Dzulhijjah 1410 H disholatkan di masjid al-Haram dan dimakamkan di pemakaman Ma’la Makkah al-Mukarramah.
(Sumber Artikel)










SERAT DJAWI>Belajar Budaya Sendiri

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Minggu, 01 November 2009 0 komentar


PUSTAKA RAJA PURWA

Pustaka raja purwa adalah kumpulan cerita yang dipakai sebagai acuan oleh para dhalang dalam pertunjukan wayang kulit di pulau Jawa. Kumpulan cerita ini dikumpulkan dan dinyatakan secara tertulis oleh pujangga keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Rangga Warsita. Walaupun sumber cerita dari pustaka raja purwa ini berasal dari Mahabarata dan Ramayana dari India, namun beberapa isi detailnya telah disesuaikan dengan keadaan di pulau Jawa pada waktu itu.

Beberapa modifikasi cerita ini misalnya dewi Drupadi dalam cerita aslinya adalah istri dari kelima saudara Pendawa, tetapi dalam pustaka raja purwa ia hanya dinyatakan sebagai istri dari saudara tertua Pendawa yaitu Puntadewa (Yudistira). Hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik sosial, karena seorang wanita tidak bisa mempunyai 5 orang suami. Hal ini penting karena di pulau Jawa, cerita wayang dipakai sebagai petuah, contoh dan pedoman hidup kebanyakan masyarakat pada waktu itu.

Judul lakon cerita dalam pustaka raja purwa ini ada lebih dari 177 lakon/lampahan dan di antaranya adalah (dalam bahasa Jawa):

1. Manikmaya, yaitu cerita mengenai Manik (Bathara Guru di kahyangan) dan Ismaya (Semar di alam marcapada/dunia).
2. Watugunung, yaitu cerita mengenai Raden Buduk dari kerajaan Gilingwesi yang mengawini ibunya sendiri.
3. Mumpuni, yaitu cerita mengenai perkawinan antara dewi Mumpuni dan bathara Yamadipati.
4. Wisnu krama
5. Bambang Kalingga/Sekutrem
6. Palasara krama
7. Dewabrata
8. Pandu lair
9. Narasoma kawin
10. Puntadewa lair
11. Suyudana lair
12. Bima bungkus
13. Arjuna lair
14. Yamawidura kawin
15. Pandhu papa
16. Palgunadi
17. Bale sigala-gala
18. Babad alas Wanamarta
19. Arimba
20. Mustakaweni
21. Antasena lair
22. Gathotkaca lair
23. Pergiwa-Pergiwati
24. Gathotkaca kawin
25. Gathotkaca dadi ratu
26. Sasikirana
27. Brajadenta mbalela.
28. ……
29. Wahyu cakraningrat
30. Jagal Abilawa
31. Kresna duta
32. Kresna gugah
33. Seta gugur
34. Bambang Wisanggeni
35. Pendawa dadu
36. Yudayana ilang
37. …
38. Arjunawiwaha
39. Sumantri ngenger
40. Dasarata kawin
41. Dewi Sinta lair
42. Rama kawin
43. Tundhungan
44. Rama duta
45. Rama gandrung
46. Rama tambak
47. Pejahipun Kumbakarna
48. Pejahipun Indrajid
49. Pejahipun Dasamuka
50. Sinta obong
51. Rama obong
52. Rama nitis
53. dan lain-lain.

Referensi

* Suluk, Kawruh Pedhalangan lan Macapat, Nanang Windradi, Penerbit Cendrawasih
.SERAT KALATIDHA
Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Latar belakang

Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom. Kala tidha secara harafiah artinya adalah “zaman gila” atau zaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau “pujangga terakhir”. Sebab setelah itu tidak ada “pujangga kerajaan” lagi.

Arti singkat

Syair Kalatidha bisa dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama ialah bait 1 sampai 6, bagian kedua ialah bait 7 dan bagian kedua ialah bait 8 sampai 12. Bagian pertama ialah tentang keadaan masa Rangga Warsita yang menurut ialah tanpa prinsip. Bagian kedua isinya ialah ketekadan dan sebuah introspeksi diri. Sedangkan bagian ketiga isinya ialah sikap seseorang yang taat dengan agama di dalam masyarakat.

Petikan

Bait Serat Kalatidha yang paling dikenal adalah bait ke-7. Sebab bait ini adalah esensi utama syair ini. Amanat syair ini bisa diringkas dalam satu bait ini.

Amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya kéduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.

Menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
bagaimana akan mendapatkan bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com