English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia

Akidah Ahlussunnah sebagai Jalan tengah

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Kamis, 04 Oktober 2012 0 komentar

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah aqidah pertengahan, moderat. Tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri. Tidak berlebihan dan juga tidak menggampangkan. Demikian sesuai karakter umat ini sebagai umat yang adil dan pertengahan. Allah Swt berfirman, “Dan demikian Kami jadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia (umat sebelummu) dan Rasulullah menjadi saksi atas kamu.”  (QS. Al-Baqarah: 143)
Kaum Muslimin tidak seperti kaum Nasrani yang menuhankan Isa, dan tidak seperti Yahudi yang menganggap Uzair sebagai anak Allah. Kaum Muslimin pun tidak mengajarkan kerahiban yang anti-dunia seperti Nasrani, dan pula tak seperti Yahudi yang mengaku sebagai anak dan kekasih Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Peganglah petunjuk yang moderat (qaashidan), karena sesungguhnya orang yang memberat-beratkan agama, dia akan kalah.” (HR. Ahmad dari Buraidah). Seorang ulama tabi’in, Mutharrif bin Abdillah Asy-Syikhkhir berkata, “Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengahnya.” (HR. Al-Baihaqi)

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sulit dilepaskan dari dua kelompok besar, yakni Asya’irah (termasuk Maturidiyah) dan Salafiyah. Keduanya mempunyai perbedaan dalam menyikapi nama-nama dan sifat-sifat Allah. Namun, banyak kesamaan dalam beberapa masalah.  Ketika menafsirkan ayat, “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah menjadi hitam.” (QS. Ali ‘Imran: 106), Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya yaitu pada hari kiamat, di mana wajah-wajah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi putih, dan wajah-wajah ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat menjadi hitam.” (Tafsir Al-Qur`an Al-‘Azhim)
Namun demikian, sikap moderat bukan berarti harus lunak dalam segala hal dan di setiap waktu. Sebab, Islam mempunyai sikap yang jelas dan tegas dalam hal-hal tertentu, terutama ketika kehormatannya dilecehkan. Demikian beberapa poin kemoderatan Islam dalam masalah aqidah:
Kasus Sahabat Nabi
Di antara konsep ‘jalan tengah’ dalam aqidah Aswaja adalah bersikap moderat kepada para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yakni tidak mengkultuskan mereka, tidak mencela, dan tidak merendahkan. Aswaja menempatkan para sahabat dalam posisi yang mulia, mencintai mereka, meyakini keadilannya, dan tidak turut campur dalam perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.
Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang lebih dulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 100)
Saat ditanya tentang pertikaian yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, Umar bin Abdil Aziz berkata, “Itu adalah darah di mana Allah membersihkan tanganku dari turut campur di dalamnya. Karenanya, aku tidak ingin mengotori lisanku dengan membicarakannya.” (Al-Inshaf, Al-Baqillani)
Menjawab pertanyaan senada, Imam Ahmad membaca ayat 134 surat Al-Baqarah, “Itu adalah umat yang telah lalu. Mereka mendapatkan balasan apa yang mereka lakukan, dan kamu pun mendapatkan balasan apa yang kamu lakukan. Dan, kamu tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka lakukan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir)
Ibnu Hajar berkata, “Ahlus Sunnah sepakat atas wajibnya menahan diri dengan tidak mencela seorang pun dari sahabat dikarenakan peperangan yang terjadi di antara mereka, sekalipun diketahui siapa yang benar di antara mereka. Sebab, mereka tidak berperang melainkan dengan ijtihad, di mana Allah Ta’ala memaafkan orang yang salah dalam berijtihad. Bahkan hadits shahih mengatakan bahwa orang yang salah dalam ijtihadnya mendapatkan satu pahala, sementara yang benar mendapatkan dua pahala.” (Fathul Bari)
Sementara Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah Saw.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah). Ibnu Katsir berkata, “Dan sahabat semuanya adalah adil menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena Allah telah memuji mereka dalam Kitab-Nya yang mulia. Dan juga karena Sunnah Nabawiyah menyatakan demikian ketika memuji mereka dalam seluruh akhlak dan perbuatan mereka.” (Al-Ba’its Al-Hatsits)
Lalu, bagaimana hukum orang yang mencela sahabat? Para ulama berbeda pendapat; ada yang mengatakan zindiq, kafir, ahlul bid’ah, dan ada juga yang mengatakan dibunuh. Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw… , jika dia mengatakan bahwa mereka berada dalam kesesatan atau kekufuran; dia boleh dibunuh.” (Hukmu Sabbillah Ta’ala wa Ar-Rasul wa Ash-Shahabah/Syaikh Abdul Malik Al-Qasim)
Ibnu Hazm berkata, “Para sahabat semuanya adalah ahlul jannah. Artinya, siapa yang mencela sahabat dan memusuhi mereka, tak lain adalah musuh yang jauh dari rahmat Allah, busuk akhlaqnya, dan zindiq.” (Al-Lawami’, As-Safarini). Abu Zur’ah berkata, “Apabila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq.” (Tarikh Dimasyq). Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H) berkata, “Para fuqaha sepakat tentang hukum orang yang mencela sahabat, sekiranya dia menganggap sahabat tersebut halal darahnya, maka dia adalah kafir. Tetapi, jika dia tidak menganggap demikian, maka dia adalah fasiq.” (Hiwar Hadi` Ma’a Du’at At-Taqrib Ma’a Asy-Syi’ah, Abu Mush’ab)
Sebagian ulama mendasarkan pendapat mereka pada sabda Rasulullah Saw berikut, “Barangsiapa menyakiti sahabatku, maka dia juga menyakitiku. Dan siapa yang menyakitiku, sungguh dia telah menyakiti Allah.”  HR. Ahmad (16201) dan At-Tirmidzi (3797) dari Abdullah bin Mughaffal.
Tindakan mencela apalagi sampai mengkafirkan sahabat Nabi adalah sikap melampaui batas. Dalam kitab Al-Iqtishad fil I’tiqad, Imam Al-Ghazali mengatakan: “Hendaknya kita hati-hati dalam mengafirkan orang lain selama masih ada jalan. Sebab, menghalalkan darah dan harta orang yang shalat ke arah kiblat, yang jelas-jelas mengatakan La ilaha illallah Muhammad Rasullullah; adalah salah!”
Oleh: Abduh Zulfidar Akaha
Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo

Dialog Asik : Ahlussunnah VS Antisunnah

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Rabu, 12 September 2012 0 komentar

A : "Maulid dan tahlilan itu haram, dilarang di dalam agama."
B : “Yang dilarang itu bid’ah, bukan Maulid atau tahlilan, Bung!
A :"Maulid dan tahlilan tidak ada dalilnya."
B :"Makanya jangan cari dalil sendiri, nggak bakal ketemu. Tanya dong sama guru, dan baca kitab ulama, pasti ketemu   dalilnya."
A :"Maulid dan tahlilan tidak diperintah di dalam agama."
B :"Maulid dan tahlilan tidak dilarang di dalam agama."
A :"Tidak boleh memuji Nabi saw. secara berlebihan."
B :"Hebat betul Anda, sebab Anda tahu batasnya dan tahu letak berlebihannya. Padahal, ALLOH saja tidak pernah membatasi pujian-Nya kepada Nabi saw. dan tidak pernah melarang pujian yang berlebihan kepada Beliau saw."
A :"Maulid dan tahlilan adalah sia-sia, tidak ada pahalanya."
B :"Sejak kapan Anda berubah sikap seperti Tuhan, menentukan suatu amalan berpahala atau tidak, ALLOH saja tidak pernah bilang bahwa Maulid dan tahlilan itu sia-sia."
A :"Kita dilarang mengkultuskan Nabi saw. sampai-sampai menganggapnya seperti Tuhan."
B :"Orang Islam paling bodoh pun tahu, bahwa Nabi Muhammad saw. itu Nabi dan Rasul, bukan Tuhan."
A :"Ziarah ke makam wali itu haram, khawatir bisa membuat orang jadi musyrik."
B :"Makanya, jadi orang jangan khawatiran, hidup jadi susah, tahu."
A :"Mengirim hadiah pahala kepada orang meninggal itu percuma, tidak akan sampai."
B :"Kenapa tidak! Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mati duluan, nanti saya kirimkan pahala Al-Fatihah kepada Anda."
A :"Maulid itu amalan mubazir. Daripada buat Maulid, lebih baik biayanya buat menyantuni anak yatim."
B :"Cuma orang pelit yang bilang bahwa memberi makan atau berinfak untuk pengajian itu mubazir. Sudah tidak menyumbang, mencela pula."
A :"Maulid dan tahlilan itu bid’ah, tidak ada di zaman Nabi saw."
B :"Terus terang, Muka Anda juga bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi saw."
A :"Semua bid’ah (hal baru yang diada-adakan) itu sesat, tidak ada bid’ah yang baik/hasanah."
B :"Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja, motor, atau mobil seperti Anda. Semua itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat."
A :"Kasihan, masyarakat banyak yang tersesat. Mereka melakukan amalan bid’ah yang berbau syirik."
B :"Sudah lah, kalau Anda masih bodoh, belajarlah dulu, sampai anda bisa melihat jelas kebaikan di dalam amalan mereka."
A :"Saya menyesal dilahirkan oleh orang tua yang banyak melakukan bid’ah."
B :"Orang tua Anda juga pasti sangat menyesal karena telah melahirkan anak durhaka yang sok pintar seperti Anda."
A :"Para penceramah di acara Maulid, bisanya hanya mencaci maki dan memecah belah umat."
B :"Sebetulnya, para penceramah itu hanya mencaci maki orang seperti Anda yang kerjanya menebar keresahan dan benih perpecahan di kalangan umat."
A :"Qunut Shubuh itu bid’ah, tidak ada dalilnya, haram hukumnya."
B :"Kasihan, rokok apa yang Anda hisap? Setahu saya, di dalam iklan, merokok Star Mild hanya membuat orang terobsesi menjadi sutradara atau orator. Sedangkan Anda sudah terobsesi menjadi ulama besar yang mengalahkan Imam Syafi’i yang mengamalkan qunut shubuh. Lebih Berasa, Berasa Lebih pinter gitu loh!


ISLAM SUNNI DI INDONESIA

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Minggu, 09 September 2012 0 komentar



Islam merupakan agama multi dimensi dengan beragam pengamalan ajaran, interpretasi hukum, dan aliran-aliran yang turut melegitimasi Islam dalam poros agama yang ramatan lil ‘alamin.
Islam dalam sejarah kosmologinya hingga di masa kontemporer, dipelajari dengan pendekatan faham keagamaan yang berimplikasi pada munculnya firqah (kelompok-kelompok keagamaan) dan didalamnya juga terdapat sekte-sekte yang jumlahnya tidak sedikit.
Sunni atau sering disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau biasa disingkat Aswaja, merupakan salah satu golongan yang berkembang dengan paham pemikiran keagamaan (teologi) lahir menjadi jalan tengah terhadap rentetan konflik khilafah (pemerintahan dengan penguasa tunggal seorang khalifah) yang berkepanjangan sehingga mengerucut menjadi konflik ideologi dan akidah sebagai aspek fundamen terhadap legitimasi masing-masing pihak yang bertikai.
Berbagai firqah muncul pada masa Khulafa’ur Rasyidin dengan ideologi dan pemikiran yang berbeda. Pertama, munculnya kelompok yang mengkultuskan sayyidina ‘Ali, yang kemudian menjadi Syi’ah, inilah firqah pertama dalam sejarah perpecahan teologi Islam. Dan kedua kelompok khawarij yang merupakan gabungan “barisan sakit hati” dari pendukung ‘Ali dan pendukung Mu’awiyah yang tidak menerima gencatan senjata atas keduanya, mereka menganggap bahwa kedua pihak telah sama-sama melanggar hukum Tuhan dengan menerima damai terhadap kesalahan musuh masing-masing. Dan pelanggaran terhadap hukum Tuhan mereka fatwakan sebagai dosa besar yang menyebabkan pada kekafiran.karena menurut mereka, semua dosa adalah besar, tidak ada yang namanya dosa kecil, dan pelakunya lepas dari ke-islam-annya walaupun sebelumnya telah bersyahadat. Sementara itu, Muncul pula kelompok yang berbeda pola pandang dengan khawarij, mereka menamakan diri Murji’ah. Mereka menyatakan, bahwa orang yang dalam hatinya telah mempercayai wujud Allah maka orang itu sudah mu’min sekalipun ia menyembah berhala dan tidak pernah beribadah maka orang itu sudah pasti selamat di akhirat karena sudah punya iman, aliran ini merupakan lawan (kebalikan) dari Khawarij.
Selain golongan yang disebut diatas, lahir pula golongan Jabariyah yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai daya apapun untuk melakukan kehendak, semua yang terjadi merupakan kehendak Allah semata, termasuk ketika seorang muslim melakukan dosa, mereka berpendapat bahwa dosa tersebut atas kehendak dan sebab pertolongan Allah, bukan kehendak orang yang melakukannya. Kemudian muncul reaksi dari kelompok yang berseberangan faham dengan kelompok ini, yakni kelompok yang menamakan diri Qadariyah, yaitu kelompok yang berpendapat bahwa manusia memiliki kehendak dan kuasa penuh atas dirinya tanpa membutuhkan kuasa Allah, mempunyai daya untuk melakukan apa yang diinginkannya serta menanggung konsekuensi (akibat) dari seluruh perbuatannya, karena apa yang dilakukan manusia, semua atas kehendak dan kemampuan manusia itu sendiri. Akibatnya, faham ini mendorong lahirnya golongan Mu’tazilah yang berorientasi pada rasionalisasi pemahaman keagamaan. Mereka menerima ajaran agama setelah disesuaikan dengan rasio mereka. Adapun Mujassimah/ Musyabbihah, aliran ini lahir jauh setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul, karena kelompok ini hayalah sekelompok kecil pengikut “Anti Ta’wil” terhadap teks Al-Qur’an, yang salah satu pengikut aliran ini bernama Ahmad Taqiyuddin bin Abu Abbas bin bin Syihabuddin bin Abdul Mahasin bin Abdul Halim bin Syeikh Majdudin Abil Barakat bin Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim Al-Khadr bin Muhammad Al-Khadr bin Ali bin Abdillah atau yang sering kita kenal dengan Ibnu Taymiyah yang berabad-abad kemudian menjadi orang yang berpengaruh dalam perjalanan spiritual pendiri sekte Wahabi, yakni Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi.
Sebetulnya, masih ada firqah-firqah lain yang tidak begitu populer yang jumlahnya tidak sedikit yang muncul sesudah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mapan sebagai kelompok mayoritas umat Islam di seluruh dunia . Namun yang kami sebutkan diatas kiranya cukup untuk menggambarkan betapa carut-marutnya pemikiran “Teologi Islam” dipersimpangan pemahaman, dan sekaligus membuka mata bahwa aliran Wahabiyah merupakan "aliran baru" dalam pemikiran Islam yang muncul bersama pendirinya.

Di tengah-tengah meruncingnya pertentangan ideologi dan politik saat itu yang kemudian menjadi pertentangan akidah, muncul lah nama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mengusung ajaran Nabi sebagai dasar ideologi. Aliran ini menghadirkan lagi kemurnian ajaran Islam dan membersihkannya dari kontaminasi politik dan lumpur ideologi yang berasal dari pertentangan kepentingan kelompok yang sudah mulai memecah-mecah Islam dan kaum muslimin hingga ke ranah akidah.
Kelompok ini mendapat sambutan hangat dan cepat berkembang di tengah-tengah kegersangan akidah umat, adalah Abu Hasan bin ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari atau lebih dikenal dengan Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324,M.) dan Abu Mansur Al-Maturidi sebagai orang yang mengkodifikasi anasir ajaran Nabi yang tidak sempat terfikirkan oleh pemuka-pemuka golongan pada saat itu. Saya pribadi sangat tidak setuju bila dua ulama ini disebut sebagai konseptor teologi aliran ini, karena “konseptor” Ahlussunnah wal Jama’ah sebenarnya adalah Rasulullah SAW. Dan ini berarti Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan Islam yang murni yang sesuai dengan yang diajarkan Kanjeng Nabi, karena faham ini ada sejak masa beliau SAW masih hidup. Jadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah Counter Argument, atau Reaction dari munculnya firqah-firqah saat itu, namun inilah Islam yang sesungguhnya. Hanya saja dua ulama inilah yang menyuguhkannya (berijtihad) ditengah kehausan umat akan akidah yang benar.


Di Indonesia
, Islam Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah lebih dikenal sebagai aliran yang konservatif atau tradisionalis yang tetap mempertahankan konsep salafiyah dengan mengkolaborasikan adat dan kearifan lokal, nilai-nilai luhur budaya dan tradisi di masyarakat.
Dalam perjalanannya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia telah melebur menjadi Islam yang bercorak Nusantara yang menjadi ciri khas dan pembeda dengan Islam di negara-negara mayoritas muslim seperti Mesir, Sudan, Syiria, Yaman dan lain-lain.
Islam Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau yang biasa kita singkat Aswaja, mengalami pelembagaan sejak kehadiran Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari bersama koleganya, KH. Wahab Chasbullah berhasil mempelopori berdirinya jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi pionir dan benteng dalam menjaga, melestarikan dan mengembangkan faham dan i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah di bumi Indonesia.







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com