English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
NAHDLATUL ULAMA BERKOMITMEN TETAP MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia

Orang tua harus mengawasi penggunaan internet anak

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Kamis, 20 Maret 2014 0 komentar

Solo, NU Online


Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mengajak para orang tua untuk mendampingi dan mengawasi putra-putrinya dalam menggunakan aplikasi teknologi informasi. Pendampingan dan pengawasan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi penyalahgunaan aneka bentuk jejaring sosial.

Imbauan ini disampaikan Kiai Hasyim pada peresmian kerja sama pelatihan informasi dan teknologi antara PCNU kota Surakarta dan PT Telkom di Hotel Lampion, Solo, Senin (17/3).

Dewasa ini, menurut Kiai Hasyim, kecanggihan tehnologi internet dengan segala daya tarik, kemudahan serta kemurahannya membuat banyak anak kecil hingga dewasa ketergantungan. Baik hanya sekedar bermain game, menggunakan jejaring sosial, atau menggunakan fasilitas internet lainnya. 

”Sekarang orang tua tinggal memilih anak itu tumbuh sebagai anak kita atau anak zamannya. Jika ingin anak itu menjadi anak kita, maka orang tua harus mampu mengawasi dan menjadi kendali bagi mereka, jika tidak maka anak tersebut akan menjadi anak zamannya,” tegas Abah Hasyim. 

Sedangkan anak zamannya, lanjut Abah Hasyim, ialah mereka yang selalu ingin tampil sebagaimana trend atau gaya yang berkembang baik dalam bertingkah laku maupun cara berpakaian, bahkan sesungguhnya itu sudah bertentangan dengan norma agama maupun norma yang berlaku di negara kita. 

Lalu apakah anak sama sekali tidak boleh mengikuti perkembangan zaman? Tentu bukan begitu, kembali lagi bahwa mengikuti perkembangan zaman harus dengan kendali orang tua dan selalu berpedoman kepada sesuatu yang hak yang sudah pasti kebenarannya. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K-NU ONLINE)

Resensi Buku : SEJARAH TAHLIL

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Jumat, 01 Maret 2013 0 komentar



Judul Buku : Sejarah Tahlil
Penulis : KH Muhammad Danial Royyan
Tebal : viii, 72
Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal
Cetakan : pertama, 17 Februari 2013
Peresensi : Fahroji








Munculnya ideologi dan faham Salafi/Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor NU Online Kendal

Foto foto Kegiatan Rotibul Kubro Petarukan

Diposting oleh Musholla BAITUL HASAN Sabtu, 27 Oktober 2012 0 komentar

Tanggal 26 Oktober kemarin bertempat di TPQ AL FUDLOLA Petarukan, Jama'ah ROTIB AL KUBRO Musholla baitul Hasan Keboijo Petarukan menyelenggarakan kegiatan rutinan pembacaan rotibul Kubro. Acara ini diadakan tiap malam Sabtu dengan tempat yang bergilir di rumah jama'ah rotib
Seperti biasa, pembacaan rotib al kubro ini diimami oleh Kyai Asrori Ahmad Al-Hafidz.Hadir pada waktu itu sekitar 50an orang.















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
INGAT, PEMILU / PILKADA JANGAN GOLPUT :
SATU SUARA ADALAH SATU HARAPAN JIKA SATU SUARA TERBUANG BERARTI SATU HARAPAN HILANG
JIKA ANDA GOLPUT ANDA KEHILANGAN KESEMPATAN MEMPERBAIKI BANGSA INI

PEMBERITAHUAN LAMAN INI MENERIMA SUMBANGAN ARTIKEL KEASWAJAAN, KEBANGSAAN DAN KEINDONESIAN Kirimkan Artikel anda ke : alhasan-petarukan@gmail.com